Tuesday, 26 Jumadil Awwal 1441 / 21 January 2020

Tuesday, 26 Jumadil Awwal 1441 / 21 January 2020

Menyelisik Performa Ganda Putra

Jumat 28 Apr 2017 05:18 WIB

Red: Agus Yulianto

Wartawan Senior - Nurul Hamami

Wartawan Senior - Nurul Hamami

Foto: Republika/ Wihdan

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh : Wartawan Senior Republika, Nurul S Hamami

Begitu pengembalian shuttlecock Kidambi Srikanth gagal dijangkau Anthony Sinisuka Ginting, tamat sudah harapan untuk menyaksikan pemain Indonesia tampil di partai puncak Singapura Terbuka World Superseries 2017, Ahad (16/4) dua pekan lalu. Anthony menjadi satu-satunya asa yang tersisa, setelah sebelumnya Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo dan Berry Angriawan/Hardianto kandas di semifinal ganda putra.

Pemain-pemain Indonesia pun tak ada yang pulang membawa gelar dari turnamen berhadiah total 350 ribu dolar AS ini. Dalam dua turnamen superseries sebelumnya, India Terbuka dan Malaysia Terbuka, Marcus/Kevin memboyong dua gelar sekaligus. Ini membuat mereka mencetak hattrick juara berturutan setelah sebelumnya tampil sebagai pemenang di All England.

Di saat Indonesia paceklik gelar dalam empat bulan terakhir, sektor ganda putra menjadi pengecualian. Setidaknya, sudah empat gelar bisa diraih dari sembilan turnamen grand prix gold dan superseries. Tiga melalui Marcus/Kevin, serta satu lewat Berry Angriawan/Hardianto yang juara di Malaysia Masters Januari lalu.

Sebenarnya masih ada satu gelar lagi yang direbut pemain Indonesia yakni melalui Tommy Sugiarto yang menjuarai Thailand Masters pada Februari lalu. Namun, Tommy bukan pemain pelatnas. Dia tampil atas biaya sendiri dan berlatih sendiri sejak keluar dari pelatnas.

Nomor ganda putra memang masih menjadi andalan Indonesia. Dalam tiga turnamen superseries terakhir, tidak hanya mampu mempersembahkan dua gelar. Tapi, juga menciptakan final sesama Indonesia di India Terbuka saat Marcus/Kevin menghadapi Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi. Di Singapura bahkan meloloskan dua pasangan hingga ke semifinal dan satu lagi terhenti di perempat final.

Marcus/Kevin melanjutkan predikat “bintang baru” ganda putra sejak menjuarai All England pada Maret lalu. Di India Terbuka, mereka tak terbendung hingga partai puncak dalam kemenangan dua gim langsung. Satu di antaranya adalah kembali mengalahkan ganda Denmark Mads Conrad-Petersen/Mads Pieler Kolding di semifinal. Kala di All England, Marcus/Kevin juga mengatasi Duo Mads di semifinal.

Sepekan kemudian di Malaysia Terbuka, Marcus/Kevin kembali naik podium juara. Langkah mereka sulit dibendung oleh Fu Haifeng/Zheng Siwei (Cina) di pertandingan final. Bahkan, Li Junhui/Liu Yuchen yang mereka taklukkan di final All England, kali ini mereka singkirkan di perempat final.

Namun, faktor kelelahan tak bisa diatasi oleh Marcus/Kevin di Singapura Terbuka. Keduanya hanya mampu bertahan hingga semifinal setelah kandas di tangan Mathias Boe/Carsten Mogensen (Denmark). Ini menjadi antiklimaks bagi mereka setelah tidak terkalahkan dalam 18 laga berturut-turut di turnamen superseries dalam sebulan.

Di luar Marcus/Kevin, tim pelatih pelatnas ganda putra harus berpikir dan bekerja lebih keras lagi untuk menghasilkan para juara. Sejumlah pasangan terlihat masih tidak stabil. Di satu turnamen bisa berprestasi bagus, namun di turnamen lain jeblok. Semestinya, kalau gagal di turnamen lain, hasilnya tidak terlalu buruk.

Lihat saja Berry Angriawan/Hardianto. Mereka bisa menjuarai turnamen Malaysia Masters, namun langsung tersingkir di babak pertama India Terbuka. Tapi kemudian, bisa bangkit lagi dan menembus semifinal di Singapura Terbuka. Sepekan kemudian di China Masters Grand Prix Gold, pasangan ini juga mampu menembus semifinal.

Hal serupa terjadi pada Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi. Mereka bisa tampil di final India Terbuka, namun sepekan kemudian hanya sampai babak pertama di Malaysia Terbuka. Tapi, di Singapura pekan berikutnya, Angga/Ricky mampu menembus perempat final. Setelah beristirahat satu pekan, Angga/Ricky kembali tak menunjukkan performa bagus setelah hanya sampai babak kedua Kejuaraan Asia di Wuhan, Cina, Kamis (27/4).

Penampilan dua pasangan yang lain yakni Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto dan Mohammad Ahsan/Rian Agung Saputro juga masih belum menjanjikan. Kedua pasangan ini hanya sampai babak kedua di Malaysia dan Singapura Terbuka. Mereka juga kandas di babak kedua Kejuaraan Asia.

Ahsan/Rian bahkan langsung kalah di babak pertama Singapura Terbuka. Ini harus menjadi perhatian serius juga oleh tim pelatih yang dikepalai oleh Herry IP. Ahsan agaknya harus dicarikan pasangan yang pas bila hingga pertengahan tahun ini tidak menunjukkan performa mengesankan bersama Rian.

Herry IP mengaku puas dengan hasil para pemain asuhannya di tiga turnamen superseries terakhir. Walaupun gagal membawa pulang gelar juara dari Singapura Terbuka, tapi penampilan mereka tidak buruk-buruk amat. Capaian yang diperoleh Kevin/Marcus dan Berry/Hardianto sebagai semifinalis, serta Angga/Ricky sebagai perempat finalis, tidak begitu mengecewakan.

“Walaupun tidak ada yang juara di ganda putra, rata-rata penampilan mereka sesuai dengan yang diharapkan, terutama pemain pelapis. Tapi tetap masih ada juga yang di bawah harapan dan ada beberapa catatan pemain yang harus ditingkatkan,” kata Herry, seperti dikutip laman resmi PBSI, badmintonindonesia.org.

Terhadap Kevin/Marcus, Herry memberikan catatan khusus. Dia mengaku cukup puas dengan pencapaian Kevin/Marcus sejauh ini dan berharap mereka bisa terus meningkatkan kemampuan di lapangan.

“Untuk Kevin/Gideon penampilan mereka saya nilai sudah oke. Mereka saat ini menjadi andalan di ganda putra. Tapi, kemampuan mereka harus ditingkatkan terus. Ini karena persaingan ganda putra di level dunia, saat ini, ketat saling mengalahkan,” kata Herry.

Hasil tiga superseries terakhir di India, Malaysia, dan Singapura, serta seri grand prix gold China Masters dan Kejuaraan Asia, menjadi pelajaran berharga bagi PBSI, khususnya bidang pembinaan. Sektor ganda putra tetap harus dibenahi. Termasuk dalam memilih turnamen bagi para pemain agar ritmenya terjaga.

Sukses Marcus/Kevin merebut tiga gelar superseries berturut-turut lalu kemudian gagal di Singapura, semestinya menjadi pekerjaan rumah yang harus dituntaskan. Jangan cepat terkesima dengan capaian yang begitu cepat.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA