Wednesday, 4 Jumadil Akhir 1441 / 29 January 2020

Wednesday, 4 Jumadil Akhir 1441 / 29 January 2020

Ekonom: Hasil Pertemuan Negara G20 di Washington tidak Mengikat

Rabu 26 Apr 2017 14:13 WIB

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Nidia Zuraya

Pertemuan G20, ilustrasi

Pertemuan G20, ilustrasi

Foto: G20

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo bersama Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati baru saja mengikuti Pertemuan Musim Semi Dana Moneter Internasional (IMF) dan Pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20 pada 20-22 April lalu, di Washington. Berbagai solusi untuk memulihkan perekonomian dunia pun dibicarakan dalam pertemuan tersebut.

Hanya saja, menurut Ekonom SKHA Institute for Global Competitiveness Eric Sugandi, biasanya pertemuan semacam itu hanya menghasilkan komunikasi atau pernyataan bersama yang tidak mengikat. "Jadi tergantung apakah meeting ini menghasilkan keputusan bersama," ujarnya kepada Republika, Rabu (26/4).

Ia menambahkan, pertemuan tersebut bisa berdampak ke pasar finansial bila ada pernyataan yang memberikan berita positif atau optimis ke pasar. Meski begitu, menurut Eric jangka waktu pengaruhnya akan sangat pendek.

"Karena hanya pengaruhi persepsi dan bukan fundamental," tegas Eric.

Sebelumnya, Agus Marto menyambut baik perbaikan proyeksi pertumbuhan dunia 2017 oleh IMF dari 3,1 persen menjadi 3,5 persen. Menurutnya, hal itu menandakan momentum positif pemulihan perekonomian dunia.

Momentum positif pemulihan perekonomian dunia tersebut ditopang oleh kinerja ekonomi yang membaik di sejumlah negara maju dan emerging. Namun demikian, perekonomian dunia ke depan masih diliputi kerentanan yang tinggi, ketidakpastian politik, dan kondisi keuangan global yang lebih ketat serta pertumbuhan produktivitas yang rendah.

Secara khusus, negara-negara emerging seperti Indonesia sebagai motor utama pemulihan ekonomi global dewasa ini dihadapkan pada risiko eksternal terkait kondisi keuangan global yang lebih ketat serta tren kebijakan di negara maju yang berorientasi ke dalam, termasuk dalam bentuk proteksionisme perdagangan.

Sehubungan dengan hal itu, guna menjaga momentum pemulihan dimaksud, BI mendukung tetap digunakannya kerangka kerja sama multilateral untuk mengatasi berbagai permasalahan ekonomi dan keuangan global dewasa ini. Bank Indonesia memandang bahwa kerja sama multilateral mendorong berbagai sumber pertumbuhan sehingga ekspansi perekonomian dunia dapat berjalan lebih berkesinambungan.

Dalam kaitan ini, sistem perdagangan yang terbuka menjadi sumber pertumbuhan yang sangat penting bagi negara-negara kawasan Asia, termasuk Indonesia. Namun, Bank Indonesia juga memandang pentingnya upaya memastikan agar manfaat dari proses integrasi keuangan dan perdagangan global tersebut dapat dirasakan oleh lebih banyak segmen masyarakat.

 

 

 

 

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA