Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Warga Yogya Gelar Qunut Nazillah untuk Kemenangan Pemimpin Muslim

Jumat 14 Apr 2017 14:31 WIB

Rep: Yulianingsih/ Red: Agung Sasongko

Berdoa/Ilustrasi

Berdoa/Ilustrasi

Foto: Republika/Wihdan

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Ratusan jamaah shalat Jumat di Masjid Jogokaryan, Kota Yogyakarta membaca doa qunut nazillah saat shalat Jumat di masjid tersebut, Jumat (14/4). Doa qunut nazillah ini dibaca para jamaah sebagai permohonan doa agar pemimpin Muslim di Indonesia menang dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) putaran kedua di Indonesia nanti. Doa sendiri dipimpin oleh Imam Masjid Jogokaryan Ustadz Abdul Aziz Maarif.

Menurut Ketua Takmir Masjid Jogokaryan, Yogyakarta Ustadz Jazir ASP mengatakan, doa qunut nazillah ini dibacakan karena saat ini Indonesia tengah berada dalam kondisi genting.  "Qunut nadzillah ini dibacakan dalam situasi genting. Kondisi saat ini sangat gawat karena menyangkut harga diri bangsa," katanya.

Menurutnya, Jakarta sebagai Ibukota Indonesia jaman dulu saat pendudukan penjajah Belanda Gubernurnya non-Muslim. Sehingga masyarakat Jakarta atau Batavia berjuang agar gubernurnya Muslim.

"Cita-cita perjuangan masyarakat Batavia adalah ingin gubernurnya Muslim. Tetapi setelah merdeka mosok akan kembali gubernurnya non-muslim. Ini adalah tamparan dan tragedi apakah kita tidak malu pada pejuang negara ini," katanya.

Selain menggelar doa qunut nazillah, takmir masjid Jogokaryan dan Forum Ukhuwah Islamiyah juga menggelar tabligh akbar dan doa bersama untuk kemenangan pemimpin muslim tersebut.

Menurut Jazir ASP, kegiatan ini merupakan salah satu upaya jamaah untuk melaksanakan tugas ideoogis dan konstitusi serta menegagkan sila kelima Pancasila.

Ustaz Abdulloh S dari Ikatan Dai Indonesia Yogyakarta dalam kesempatan itu mengatakan, tabligh akbar dan doa bersama merupakan spirit yang sama untuk perjuangan kamum muslimim.

"Kita melihat Pilkada di Jakarta dengan segala hiruk pikuknya dan luar biasanya. Bagaimana mungkin non-Muslim mendapat gelar kehormatan, dan peradilanpun tidak mempan. Mari kita rapatkan barisan, kita tidak tahu apa yang terjadi setelah 19 April nanti," ujarnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA