Saturday, 9 Zulqaidah 1442 / 19 June 2021

Saturday, 9 Zulqaidah 1442 / 19 June 2021

Jokowi Kecewa Investasi Saudi, Ekonom: Wajar Raja Salman Pilih Cina

Jumat 14 Apr 2017 13:58 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nur Aini

Raja Salman dan Presiden Joko Widodo berjalan di bawah payung saat hujan deras di Istana Bogor,  Rabu (1 /3).

Raja Salman dan Presiden Joko Widodo berjalan di bawah payung saat hujan deras di Istana Bogor, Rabu (1 /3).

Foto: AP /Achmad Ibrahim, Pool

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Ekonom Indef Eko Listiyanto mengatakan, wajar apabila nilai investasi Arab Saudi ke Cina jauh lebih besar ketimbang nilai investasi di Indonesia. Sebab, Arab Saudi tidak masuk ke dalam daftar jajaran investor utama dalam investasi langsung di Indonesia.

"Preferensi investasi Arab Saudi memang tidak ke Indonesia, saat kedatangan Raja Salman kita mencoba untuk menggaet investasi, tapi kan nggak segampang itu," ujar Eko kepada Republika.co.id, Jumat (14/4).

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo mengungkapkan, kekecewaannya terkait besaran investasi yang dikucurkan Pemerintah Arab Saudi untuk Indonesia. Menurut dia, besaran investasi untuk Indonesia jauh lebih kecil dibandingkan investasi yang ditanamkan pemerintah Arab Saudi di Cina. Jokowi menyebutkan investasi yang diberikan Arab Saudi untuk Indonesia sebesar Rp 89 triliun. Meski angka itu besar, Presiden Jokowi terkejut karena ternyata investasi yang ditandatangani Raja Salman untuk Cina mencapai Rp 870 triliun.

Padahal, Jokowi mengaku sudah menyiapkan penyambutan yang sangat rapi untuk Raja Salman. Bahkan, saat hujan deras mengguyur Istana Bogor, ia memayungi langsung Raja Salman. Tak hanya itu, Jokowi juga menyetiri sendiri mobil golf yang membawa Raja Salman berkeliling Istana Bogor. "Padahal saya sudah mayungi (Raja Salman) waktu hujan. Kok dapatnya (investasi) lebih kecil,’’ kata Jokowi.

Selain itu, Eko mengatakan perbandingan secara makro ekonomi antara Indonesia dan Cina juga sangat berbeda. Eko menjelaskan, Cina lebih bisa memberikan kepastian investasi karena memiliki pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan ease of doing business lebih baik dari Indonesia. Cina juga mempunyai hubungan dagang yang luas dengan sejumlah negara di dunia. Di sisi lain, Cina tidak hanya menerima investasi besar-besaran, tetapi juga melakukan investasi yang besar pula ke negara-negara lain. Oleh karena itu, tidak heran apabila Arab Saudi berinvestasi lebih besar ke Cina ketimbang ke Indonesia.

Eko menjelaskan, tipikal investor Arab Saudi yakni lebih praktis. Berbeda dengan investor Jepang yang dalam tahap penjajakan sudah mengeluarkan ongkos banyak untuk membuat feasibility study sendiri dengan riset yang sangat detail. Sedangkan, investor Arab Saudi lebih menyukai untuk berinvestasi di proyek-proyek yang sudah siap dan matang. "Artinya harus kita yang lebih banyak bergerak, mempromosikan diri, bahkan membuat feasibility study sendiri. Jadi mereka (investor Arab Saudi) maunya yang sudah siap," kata Eko.

Indonesia lebih banyak menawarkan investasi yang gambarannya masih belum jelas. Eko mencontohkan, sejumlah pembangunan infrastruktur masih terkendala masalah lahan. Hal inilah yang menyebabkan investor Arab Saudi memilih untuk investasi lebih besar di Cina. Apalagi, tujuan investasi adalah untuk mendapatkan keuntungan dan tidak menutup kemungkinan Arab Saudi akan memilih negara lain yang memang lebih siap.

Berdasarkan data BKPM, sepanjang 2016 realisasi investasi Arab Saudi hanya 900 ribu dolar AS yang terwujud dalam 44 proyek. Dengan angka realisasi tersebut, Arab Saudi berada di posisi 57 dalam daftar negara investor di Indonesia. Posisi ini cukup jauh dibandingkan dengan realisasi investasi dari negara Timur Tengah lainnya seperti Kuwait yang mencapai 3,6 juta dolar AS.

Peringkat Arab Saudi juga berada di bawah Afrika Selatan yang investasinya mencapai 1 juta dolar AS untuk delapan proyek. Bahkan, realisasi investasi Arab Saudi juga masih berada di bawah Mali yang mencapai sebesar 1,1 juta dolar AS. Berdasarkan catatan BKPM, sepuluh besar negara investor terbesar di Indonesia yakni Singapura, Jepang, Cina, Hong Kong, Belanda, Amerika Serikat, British Virgin Islands, Malaysia, Korea Selatan, dan Muritius.

Sementara itu, berdasarkan data Kementerian Perdagangan, Indonesia selalu mencatat defisit dalam perdagangan dengan Arab Saudi sejak 2011-2016.Perdagangan Indonesia dengan Arab Saudi mencatat defisit sebesar 1,39 miliar dolar AS pada 2016. Angka ini menunjukkan kenaikan dibandingkan dengan 2015 yang mengalami defisit sebesar 1,36 miliar dolar AS. Di sisi lain, nilai ekspor Indonesia ke Arab Saudi pada 2016 hanya sebesar 1,33 miliar dolar AS. Sedangkan, nilai impor dari Arab Saudi mencapai 2,73 miliar dolar AS.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA