Saturday, 3 Jumadil Akhir 1442 / 16 January 2021

Saturday, 3 Jumadil Akhir 1442 / 16 January 2021

Ghiroh 70 Memperbaiki Iman

Ahad 09 Apr 2017 14:00 WIB

Rep: Rahmat Fajar/ Red: Agung Sasongko

Keimanan/Ilustrasi

Keimanan/Ilustrasi

Foto: Republika/Tahta Aidilla

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ajaran Islam memerintahkan kepada umatnya untuk menegakkan kebajikan dan meninggalkan kemungkaran. Banyak ayat Alquran yang menyebut agar menjauhi larangan-Nya. Seperti, dalam surah al-Israa' (17): 32 yang berbunyi, "Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk."

Ustaz Subhan Bawazier dalam kajian Kajian Keislaman yang diadakan alumni Lintas Angkatan SMA 70 Bulungan, Ghiroh 70, dengan tema "Mau Dibawa ke Mana Iman Kita" itu mengatakan, iman seseorang ada hubungannya dengan perbuatan sehari-hari. Karena itu, Ustaz Subhan meminta umat Islam untuk meningkatkan keimanannya. "Iman dijadikan modal kepada Allah," ujar Ustaz Subhan dalam kajian Keislaman "Mau Dibawa ke Mana Iman Kita" di Masjid Attaqwa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Ahad (2/4).

Kestabilan iman menjadi sorotan dari Ustaz Subhan. Sebab, hal itu menjadi salah satu tolok ukur dari kualitas iman seseorang. Ustaz Subhan menilai, iman akan stabil jika keikhlasan dalam beribadah kepada Allah konsisten dilakukan. Penyebab lemahnya iman terjadi ketika kurang ikhlas dalam beribadah. Ikhlas yang dimaksud oleh Ustaz Subhan adalah memurnikan hati hanya kepada Allah.

Contoh kecil, yaitu umat Islam akan bahagia apabila menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Tapi, sebaliknya, jika tidak ikhlas menjalankan ibadah maka mereka akan tidak terlalu gembira menyambut bulan suci tersebut. "Jangan-jangan ngaku iman, tapi nggak beriman. Ibadah kita merasa berat karena iman kita nggak stabil," kata Ustaz Subhan.

Keikhlasan, lanjutnya, juga butuh ilmu. Sebab, ilmu merupakan pengetahuan tentang apa yang akan dilakukan. Kemudian, Ustaz Subhan meminta agar umat mampu mengontrol emosi. Ustaz mengatakan, lemahnya iman juga dikarenakan emosi yang berjalan secara konsisten. Maka dari itu, jika kualitas iman seseorang bagus tidak mudah tersulut emosi.

Selanjutnya, lemahnya iman juga disebabkan selalu mengingat hal yang telah berlalu. Termasuk, rendahnya pendidikan mental membuat iman seseorang menjadi lemah. Ustaz Subhan mengharapkan agar lebih mendekatkan diri dengan ulama guna mengasah pendidikan mental. Dekat dengan ulama, menurutnya, akan mendapatkan banyak ilmu. Di samping itu, akan mengetahui langsung bagaimana ulama menjalankan kehidupannya baik perbuatan maupun ucapan sehari-harinya.

Ustaz Subhan juga menganjurkan agar setiap perbuatan ataupun jabatan yang disandangnya harus diniatkan sebagai ibadah. Menurut Ustaz Subhan, itu sangat penting karena ibadah dapat mengangkat derajat manusia. Termasuk, bagaimana mereka beragama. Ustaz Subhan mengungkapkan, cara beragama ulama lebih nikmat dibandingkan dengan lainnya. Itu karena mereka mempunya ilmu pengetahuan dan mempunyai kualitas iman yang lebih baik daripada yang tidak berilmu.

Kemudian, lanjutnya, lemahnya iman disebabkan kurangnya pemahaman seseorang terhadap ibadah. Padahal, ibadah merupakan kewajiban selaku umat Islam. Ibadah memiliki tujuan agar manusia menjadi baik, sehingga dicintai oleh Allah. "Kalau Allah cinta, nggak akan susah kita. Kalau Allah sudah cinta, apa yang diminta pasti dikasih oleh Allah. Jangan nakal ibadah," ucap Ustaz Subhan.

Lemahnya iman juga diakibatkan oleh sedikitnya menuntut ilmu. Kegiatan duniawi, kata Ustaz Subhan, membuat aktivitas seseorang sibuk, sehingga tidak sempat beribadah. Contohnya, mereka tidak mempunyai waktu untuk membaca Alquran. Ustaz Subhan meminta agar menyisihkan waktu untuk menuntut ilmu, di antaranya, dengan mengaji Alquran. Ustaz Subhan menegaskan agar memperbanyak menuntut ilmu guna meningkatkan kualitas iman. "Sisihkan waktu kita dengan yang baik. Yuk, revisi iman kita," Ustaz Subhan menuturkan.

Ustaz Subhan meminta kepada orang tua agar mengak anaknya dengan orang-orang yang saleh. Orang tua mengajak mereka ke tempat yang bermanfaat di waktu senggang. Seperti, bersilaturahim ke kerabat ataupun ke pesantren. Sementara itu, panitia kegiatan, Yachya Irawan, mengatakan, kajian Keislaman Ghiroh 70 merupakan yang pertama kali dilakukan. Sebelumnya, kegiatan seperti ini dilakukan pada masing-masing angkatan.

Kemudian, muncul inisiatif agar diadakan kajian yang dihadiri oleh lintas angkatan. Itu guna memperkuat ukhuwah Islamiyah. Yachya mengharapkan, kajian seperti ini bisa terus berjalan ke depannya. "Ini temu kangen untuk menambah ilmu kami, mudah-mudahan, keimanan kami tumbuh. Tidak hanya temu kangen di dunia, juga di surga," kata Yachya.

Yachya menjelaskan terkait tema yang diambil dalam kajian tersebut. Menurut dia, tema itu diangkat hanya untuk kepentingan kehidupan di akhirat. Apalagi, yang hadir pada kajian tersebut mayoritas berumur 40 tahun ke atas. Pasalnya, pada umur tersebut, manusia harus lebih banyak melakukan pertaubatan dan berdoa juga memperbanyak bersyukur serta bertawakal kepada Allah.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA