Perang Badar dan Kepemimpinan Rasulullah

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Ilham

 Selasa 30 May 2017 06:30 WIB

Lokasi Perang Badar (ilustrasi) Foto: wikipedia Lokasi Perang Badar (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kisah kepemimpin Rasulullah SAW sering diriwayatkan oleh sahabat-sahabat. Sirahnya bertumpuk-tumpuk sehingga bisa menjadi teladan yang patut ditelaah dan diingat terus-menerus. Salah satu contohnya adalah kepemimpinan Beliau saat Perang Badar.  

Dari sisi logika, Perang Badar antara umat Islam dengan Kuraisy (Quraisy) pada 17 Maret 624 atau 17 Ramadhan 2 Hijriah tidaklah seimbang. Kaum Muslimin saat itu diprediksi kalah lantaran jumlahnya hanya sekitar 300 orang melawan musuhnya yang jauh lebih besar, yakni 10 ribu orang.

Indikasi bakal kalah sejak awal sudah terlihat; kebanyakan orang Islam adalah miskin, tak punya senjata modern layaknya tentara musuh. Namun meski jumlahnya sedikit, kedisiplinan umat Islam sangat baik. Mereka semangat dan patuh terhadap instruksi Nabi Muhammad SAW akhirnya pertempuran tersebut dimenangkan kaum Muslim. Lawan mundur dalam suasana kacau.

Sesungguhnya umat Islam mampu melepaskan diri dari tekanan Kuraisy dengan cara hijrah. Hijrah tidak sekadar secara fisik, yaitu meninggalkan kota Mekkah ke Madinah. Hijrah di sini dimaknai juga meninggalkan sikap egois terhadap pemilikan harta dan lebih mementingkan persatuan melalui semangat jihat membela agama Allah.

Rasulullah berhijrah ke Madinah tidak dalam satu rombongan besar, atau bertolak lebih awal. Nabi Muhammad SAW baru meninggalkan Makkah setelah para sahabatnya bertolak ke Madinah lebih dulu. Saat itu, banyak sahabat Rasulullah meninggalkan Makkah terdiri dari para orang kaya. Di tengah tekanan ancaman pembunuhan, mereka berhasil meninggalkan Makkah dan mendapat sambutan hangat di Madinah.

Ada kisah menarik dari peristiwa hijrah itu. Khususnya terkait dengan sahabat nabi Abu Bakar yang menemani Rasulullah SAW berhijrah. Sebelum bertolak ke Madinah, Nabi Muhammad SAW minta Ali untuk pindah tidurnya ke tempat Rasulullah. Nabi pun minta Ali untuk mengenakan bajunya guna mengelabui kaum Kuraisy.

Abu Bakar yang diminta Rasulullah SAW untuk menemani ke Madinah, sempat menangis. Pasalnya, sebelum ke luar dari rumah Rasulullah, Abu Bakar bertanya kepada Rasulullah. Kata Abu Bakar, apakah Allah ridho?

Lantas Rasulullah menjawab bahwa Allah memilih Abu Bakar. Allah telah memilih Abu Bakar. Abu Bakar pun kemudian menangis.

Setelah keluar rumah, Rasulullah memilih arah selatan. Padahal harusnya ke utara. Abu Bakar lantas bertanya kepada Nabi, kenapa memilih ke arah selatan bukan ke utara sebagamana arah Madinah?

Dijawab oleh Nabi Muhammad SAW karena di arah utara banyak pasukan musuh, bersenjata lengkap sudah siap membunuh dirinya.

Dalam perjalanan bersama Rasulullah SAW, Abu Bakar menyaksikan Rasulullah luka kakinya karena mendaki bukit berbatu. Lantas beristirahat di sebuah gua dan nyaris terlihat musuh. Jika saja musuh itu jongkok, Rasulullah dan Abu Bakar bakal terlihat. Syukur hal itu tak terjadi.

Di dalam gua, Rasullullah tidur di lantai tanah. Abu Bakar merasa iba dan minta Rasulullah mengenakan sebelah paha kakinya sebagai bantal. Tak lama, muncul ular dari sebuah lubang. Abu Bakar tidak terkejut. Ia berusaha menghalau ular itu tanpa mengganggu tidurnya Rasulullah SAW.

Dengan sebelah kaki, Abu Bakar menyumpal lubang ular. Tentu saja kakinya digigit. Rasa sakit ditahannya. Air mata pun mengalir dan mengenai wajah Rasulullah yang kemudian terbangun. Ditanya Rasullulah, mengapa menangis, Abu Bakar mengatakan, tidak ada apa-apa. Dan, Rasulullah pun melanjutkan tidurnya.

Rasa sakit yang dialami Abu Bakar makin berat. Bisa ular sudah mengalir ke seluruh tubuhnya. Ia gemetar. Rasullah pun terbangun dan bertanya, ada apa. Abu Bakar menjelaskan bahwa ia digigit ular.

Rasulullah SAW pun kemudian mengobati Abu Bakar. Kemudian sang ular ditanya Rasullah, mengapa mengigit Abu Bakar padahal manusia yang disakiti itu adalah pilihan Allah untuk menemani dirinya hijrah ke Madinah.

Ular itu menjawab, puluhan tahun ia hidup dalam kegelapan di gua itu. Baru sekali ini ia melihat cahaya terang. Ditanya Nabi, di mana cahaya yang dilihat itu. Padahal gua ini gelap. Ular melanjutkan jawabannya bahwa yang dimaksud cahaya itu adalah diri Rasulullah.


Berita Lainnya

Play Podcast X