Sunday, 4 Zulhijjah 1443 / 03 July 2022

Ada Apa dengan Masjid Kita?

Sabtu 08 Apr 2017 08:16 WIB

Red: Agus Yulianto

Masjid Jami' Nurul Falah Kubah Keong di Karang Tengah, Jakarta Selatan.

Masjid Jami' Nurul Falah Kubah Keong di Karang Tengah, Jakarta Selatan.

Foto: jakarta.urbanesia.com

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Rudi Agung *)

Usianya mendekati 20. Tangannya dilukis tato. Kepalanya gundul. Berat tubuhnya di kisaran 50 an kg. Ini kisah lama.

Dua tahun lalu. Sebut saja, Tono. Saya bertemu anak Punk itu di Kuningan, Jawa Barat.

Dalam alunan suara yang gurih, jarinya lentik memetik senar gitar. Ia diam. Tertunduk. Lalu, beberapa tetes air jatuh dari bola matanya. Mengalir, membasahi dua pipinya yang tirus.

Kami tatap wajahnya lekat-lekat. Ia malu. Lalu bilang, "... Saya pengen belajar shalat. Tapi, waktu shalat di masjid, pas sujud saya ditendang. Kemudian diusir."

Diam beberapa detik. Ia melanjutkan, "Yang nendang saya pengurus masjid. Sambil membentak suruh keluar, karena masjid tak boleh dikotori orang bertato. Padahal, kami sama-sama kenal. Apa boleh begitu?"

Pascakejadian itu, membuat dirinya trauma pada masjid. Alih-alih taubat, ia malah kembali ke jalanan. Kembali ke kehidupan hitamnya.

Beruntung, ada seorang Kiai yang menyelamatkannya. Ia dirangkul, disayang, diayomi, diajarkan, diingatkan, disadarkan.

Rasulullah pun tak pernah murka pada kaum Jahiliyyah, yang jelas-jelas menyembah berhala. Bahkan, kepada orang yang ingin membunuhnya, tetap dirangkul.

Pada akhirnya menjadi satu Sahabat terbaik. Menjadi gerbong manusia terbaik dalam sejarah peradaban. Bukankah para Sahabat dulunya, didominasi begundal dan orang-orang yang terjebur dalam lembah hitam? Bahkan berniat membunuh Rasul.

Tapi, Rasulullah membidik hati mereka dengan kemuliaan akhlaknya. Mereka pun justru menjadi barisan kokoh yang setia mendampingi Rasul.

Betapa dahsyatnya akhlak. Bagaimana orang mau kembali ke agama jika yang dilakukan pada mereka hal-hal yang membuatnya trauma. Duhai, kisah serupa terserak di jalanan.

Seringkali kita amati bagaimana anak-anak kecil diusir dari masjid, dianggap berisik. Ada yang dibentak, ada pula yang dilarang shalat di shaf terdepan, padahal mereka datang lebih awal. Apa shaf terdepan dilihat dari usia?

Apa para pengurus masjid lupa: kisah Rasulullah yang mengajak cucunya shalat? Sampai para Sahabat panik kondisi Rasul lantaran sujudnya terlalu lama. Ada pula yang mengira turun wahyu.

Rasulullah menjawab, dalam sabdanya: "tak terjadi apa yang kalian khawatirkan padaku. Namun, tadi cucuku naik ke punggungku bermain kuda-kudaan. Aku takut kalau cepat bangkit akan menganggunya bermain." (Al Hadits).

Bayangkan betapa mulianya akhlak Rasul. Bandingkan dengan anak-anak kecil yang dibentak, diusir dari masjid. Padahal, mereka tidak bermain kuda-kudaan di punggung pengurus itu.

Kini, usai shalat, Masjid pun dikunci. Bak sebuah perbankan yang menyimpan uang banyak dan deposito, atau bagai tempat yang menyimpan pelbagai rahasia negara. Kenapa dikunci?

Kini, masjid pun makin sepi dari anak dan remaja. Banyak diisi orang-orang sepuh. Kemana anak cucu mereka, ya?

Sedang anak-anak, remaja yang lain ketika ingin meramaikan justru dinafikan. Dibentak, bahkan diusir. Kita rindu masjid ramah anak. Rindu, masjid yang pengurusnya memiliki akhlak sejuk. Rindu.

Kita pun rindu masjid yang dibuka lebar-lebar selama 24 jam sehari, tujuh hari seminggu. Kita tak butuh masjid megah, tak perlu masjid mewah. Tapi butuh pengurusnya yang ramah.

Kita rindu masjid yang benar-benar berfungsi sebagai tempat strategis umat. Masjid yang optimal berperan menjalankan fungsi pendidikan, perekonomian, dan fungsi sosial.

Kita amat miris dengan kasus di lapangan, pengurus masjid yang kerap berselisih. Ada yang berebut jadi ketua, ada pula yang menyoal laporan keuangan.

Miris jua bila mengamati saldo kas di sejumlah masjid. Rerata puluhan juta. Kalau lebih wah dan besar masjidnya, bisa sampai ratusan juta. Sedang pengeluaran per bulan hanya sekian persennya.

Semisal untuk biaya Khatib Jumat, gaji marbot, listrik, air, biaya perawatan rutin. Pengeluarannya hanya sekian persen dari total saldo kas. Sedang tiap pekan bahkan tiap minggu, selalu bertambah dari para jamaah yang infak atau sedekah.

Untuk apa saldo yang begitu besar hanya disimpan? Apa iya disimpan di bank ribawi? Bukankah ini sesuatu yang sangat naif.

Kemudian, kalau kegunaan saldo masjid hanya fokus untuk pembangunan fisik, bagaimana dengan pembangunan sumber daya manusia? Bukankah Rasulullah mengawali dengan membangun akhlak Sahabatnya, bukan fisik masjidnya.

Barangkali uang dari jamaah masjid bisa digunakan untuk membangun SDM. Minimal, saldo jumbo itu bisa digunakan membantu jamaah sekitar masjid. Di perumahan di Jakarta, misalnya. Biasanya satu masjid pengurus dan jamaah rutinnya dari sekian RT.

Jika dalam RT atau sekitar masjid ada orang yatim, fakir miskin, bukankah uang jamaah di masjid lebih bermanfaat membiayai mereka? Meringankan beban mereka tak sekadar saat pembagian zakat fitrah dan hewan qurban saat Hari Raya saja.

Atau mungkin bisa kah untuk membangun perekonomian umat para jamaah masjid? Bukan justru membangun ruangan aula resepsi pernikahan, yang nilai ekonomisnya hanya masuk dalam endapan saldo.

Sedang pengurusnya lupa memantau teriak lapar kaum miskin dan para anak-anak yatim sekitar masjid. Mereka hanya digembirakan saat Ramadhan dan Lebaran saja.

Selanjutnya seolah mereka dibuat tidak ada. Kita tutup mata dan telinga, lupa yang diperingatkan dalam Qs Al Maun soal pendusta agama.

Saldo kas masjid, mungkin bisa pula membeli ambulan atau hal lainnya yang manfaatnya bisa langsung dirasakan bagi jamaah sekitar. Bukan diendapkan sampai nominalnya membesar.

Betapa naifnya bila saldo disimpan di bank: Mengendap, melahirkan bunga demi bunga yang berpotensi memiliki nilai ribawi. Naudzu billah. Bukankah dosa riba lebih besar dari pemabuk dan pezina?

Mudah-mudahan, dalam kasus Tono, pengusiran anak-anak oleh pengurus masjid, perselisihan antar pengurus: tidak disebabkan lantaran saldo kas masjid diendapkan di bank ribawi.

Bukan kah segala sumber asupan yang masuk ke perut akan mempengaruhi akhlak dan jiwa kita serta keturunan?

Lalu, apa jadinya jika masjid megah tapi kosong, pengurusnya tak ramah, lalu saldo kasnya disimpan di bank ribawi?Kita rindu kemuliaan akhlak. Kita rindu masjid yang seperti dulu.

Yang tidak pernah takut menerima musafir, yang terbuka 24 jam penuh, yang tak khawatir kotak amal hilang, yang tidak terkecoh propaganda dagelan teroris, yang akhlak pengurus masjidnya ramah dan menyejukan. Sangat peduli pada lingkungan.

Dari Anas bin Malik Ra. bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: "Tidak terjadi hari Kiamat sehingga umatku bermegah-megahan dengan bangunan masjid." (HR.Abu Daud).

Dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib Ra, beliau berkata: telah bersabda Rasulullah: "Sudah hampir tiba suatu zaman, kala itu tidak ada lagi dari Islam kecuali hanya namanya, dan tidak ada dari Al-Quran kecuali hanya tulisannya. Masjid-masjid mereka indah, tetapi kosong dari hidayah. Ulama mereka adalah sejahat-jahat makhluk yang ada di bawah kolong langit. Dari merekalah keluar fitnah, dan kepada mereka fitnah itu akan kembali." (HR. al-Baihaqi).

Mudah-mudahan kita tidak mengalami masa seperti yang diperingatkan Rasulullah. Atau justru memang sekarang ini Nubuah tersebut sedang kita rasakan?

Islam awalnya asing dan akan kembali menjadi asing. Beruntunglah orang-orang asing.

Shalaallahu alaa Muhammad.

*) Pemerhati masalah sosial

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA