Sunday, 11 Jumadil Akhir 1442 / 24 January 2021

Sunday, 11 Jumadil Akhir 1442 / 24 January 2021

Kurang Nutrisi, Anak Sulit Lakukan 5 Hal Sederhana Ini

Senin 27 Mar 2017 06:02 WIB

Rep: Adysha Citra R/ Red: Indira Rezkisari

Seorang anak nampak bermain di taman BKT Jakarta, Rabu (8/3)

Seorang anak nampak bermain di taman BKT Jakarta, Rabu (8/3)

Foto: Republika / Darmawan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Asupan vitamin dan mineral yang cukup memegang peranan penting bagi kesehatan dan tumbuh kembang anak, khususnya di 1.000 hari pertama kehidupan. Kekurangan gizi dapat memberi dampak jangka panjang bagi kognitif, fisik dan juga kesehatan anak maupun bayi.

Kurangnya asupan gizi dapat membuat tubuh anak tidak mampu untuk hal-hal sederhana yang sebenarnya mudah dilakukan dalam kondisi gizi terpenuhi. Setidaknya lima hal sederhana yang sulit dilakukan tubuh anak jika kebutuhan gizi tidak terpenuhi.

Menyembuhkan Lutut yang Tergores
Anak-anak memiliki banyak energi untuk bermain. Terkadang, permainan yang dilakukan membuat anak mengalami memar atau kulit yang terkelupas di bagian lutut akibat terjatuh.

Dalam hal ini, vitamin C sebagai penunjang sistem imun memegang peran penting dalam menyembuhkan luka yang terbuka. Proses penyembuhan dapat menjadi lebih lambat ketika kekurangan vitamin C. Proses penyembuhan luka yang lebih lama membuat anak lebih berisiko terhadap infeksi dan sakit.

Bersantai dengan Buku
Membaca tidak hanya menunjang perkembangan kognitif dan intelektual anak tetapi juga mendorong daya imajinasi anak. Sayangnya, kekurangan vitamin A dapat membuat anak sulit untuk mencerna kata dan cerita dari buku yang dibaca anak.

"Vitamin A penting dalam menjaga kesehatan mata," kata ahli gizi terdaftar sekaligus pemilik AB Family Nutrition di Doral, Alexandra Briceno, seperti dilansir Huffington Post.

Kekurangan vitamin A merupakan salah satu masalah gizi serius yang dialami banyak negara di dunia. Kekurangan vitamin A yang parah dapat berisiko menyebabkan kehilangan penglihatan. Kasus kekurangan vitamin A ini cukup sering ditemukan pada ibu hamil dan anak-anak.

Berkejar-Kejaran dengan Teman
Bermain kejar-kejaran dengan teman merupakan hal yang umum dilakukan oleh anak-anak. Akan tetapi, upaya untuk mengejar teman sambil berlari membutuhkan banyak energi untuk dibakar.

Kekurangan vitamin B dapat membuat anak merasa berat untuk berkejar-kejaran dalam waktu lama. Vitamin B, khususnya B12, membantu tubuh untuk mengubah makanan menjadi 'bahan bakar'. Kadar B12 yang rendah pada tub dapat membuat anak mengalami beberapa gejala seperti kelelahan dan napas pendek. Kondisi ini yang membuat permainan menyenangkan menjadi sesuatu yang sangat melelahkan bagi anak.

Pulih dari Patah Tulang
Terkadang anak yang terlalu bersemangat dalam bermain mengalami cedera yang lebih parah dari sekedar luka, misalnya patah tangan atau patah kaki. Pada anak yang terpenuhi kebutuhan gizinya, proses pemulihan patah tulang dapat berjalan dengan lancar.

Akan tetapi anak yang mengalami kekurangan vitamin D cenderung membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih. Kekurangan vitamin D juga membuat anak lebih rentan terhadap patah tulang.

"Pola makan yang kurang vitamin D dapat meningkatkan risiko cedera yang berkaitan dengan tulang, seperti retak dan patah, pada anak aktif," kata ahli gizi terdaftar dari Toronto, Andy De Santis.

Hal ini terjadi karena vitamin D dan kalsium memegang peranan penting bagi kesehatan anak yang sedang dalam masa pertumbuhan. Kekurangan vitamin D dapat menyebabkan rendahnya kalsium sehingga membuat anak lebih berisiko terhadap rakhitis.

Melakukan Slam Dunk
Faktor genetik memang 'bermain' dalam menentukan tinggi badan anak. Akan tetapi faktor genetik bukan satu-satunya yang berperan.

Faktor lingkungan, termasuk asupan gizi, juga memiliki peran dalam menentukan tinggi badan anak. Kondisi kesehatan yang tidak baik dan kekurangan gizi selama masa kehamilan serta kekurangan gizi di masa anak-anak dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak.

Di sisi lain, kekurangan zat besi juga dapat menyebabkan anemia pada anak. Anemia biasanya diikuti dengan gejala seperti sakit kepala, napas pendek, kelelahan dan tubuh yang lemah.

Sayur segar berdaun hijau seperti bayam dan kale merupakan pilihan baik untuk mencegah kekurangan zat besi pada anak. Karena selain kaya akan zat besi, sayuran-sayuran ini juga kaya akan vitamin K yang baik untuk tumbuh kembang anak.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA