Jumat, 29 Jumadil Awwal 1441 / 24 Januari 2020

Jumat, 29 Jumadil Awwal 1441 / 24 Januari 2020

Begini Cara Suara Bising Merusak Pendengaran

Rabu 22 Mar 2017 09:18 WIB

Rep: Desy Susilawati/ Red: Indira Rezkisari

Suara yang keras dan bising bisa menimbulkan gangguan pada pendengaran.

Suara yang keras dan bising bisa menimbulkan gangguan pada pendengaran.

Foto: Pixabay

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Telinga merupakan indera pendengaran yang sangat penting. Dengan telinga, seseorang bisa mendengar suara di sekitarnya dan memberikan reaksi terhadap suara tersebut. Juga mengetahui arah sumber suara dan menjaga diri dari hal-hal yang mengancam, seperti bahaya kecelakaan lalu lintas. Oleh karena itu, kesehatan pendengaran harus selalu dijaga, dengan melakukan deteksi dini serta upaya pencegahan.

Pencegahan gangguan pendengaran dilakukan untuk menghindari dampak buruk yang dapat terjadi. Bagi orang dewasa, gangguan pendengaran dapat mempengaruhi komunikasi, emosional, dan hubungan sosial seseorang. Sementara pada anak-anak akan mempengaruhi prestasi belajar dan mengganggu perkembangan wicara.

Salah satu penyebab gangguan pendengaran adalah suara bising. Perilaku mendengarkan tidak aman, seperti mendengar musik melalui earphone dengan volume berlebih dalam durasi panjang, dapat menyebabkan gangguan pendengaran akibat bising (GPAB). Ia menjelaskan penyebab GPAB ini adalah bising dengan intensitas 85 desibel atau lebih dapat  menyebabkan kerusakan pada reseptor pendengaran di organ Corti yang terletak ditelinga dalam. Kerusakan awalnya terjadi di frekeuensi 3000 Hertz sampai 6000 Hertz dan terberat kerusakan di frekuensi 4000 Hertz (terbentuk takik pada gambaran audiogram).

Senada, Ketua perhimpunan ahli THT Bedah Kepala Leher (PERHATI-KL), dr Soekirman Soekin, Sp THT-KL, Mkes mengatakan bising adalah suara yang tidak menyenangkan atau tidak diinginkan dari lingkungan. Akibat bising 85 desibel, maka kerusakan terjadi pada sel rambut telinga dalam, sehingga menyebabkan gangguan pendengaran dan keseimbangan. Selain itu juga terjadi gangguan fisiologis, dimana terjadi peningkatan tekanan darah, denyut jantung, gangguan gerakan usus, otot, gangguan metabolisme basal. Juga ada gangguan psikis, seperti gangguan emosi, komunikasi, konsentrasi, sukar tidur dan penurunan produktivitas.

Subuh mengatakan GPAB dapat bersifat sementara atau permanen. Biasanya seseorang  mengalami gangguan pendengaran sementara setelah meninggalkan tempat yang bising. Meskipun pendengaran dapat pulih setelah beberapa jam, akan tetapi masalah ini tidak boleh diabaikan. Jika terpapar kebisingan setiap hari atau berulang-ulang, maka pendengaran seseorang dapat  rusak secara permanen. Kerusakan permanen dapat terjadi akibat pengabaian gangguan pendengaran sementara atau akibat mendengar suara sangat keras secara tiba-tiba, seperti suara ledakan mesin atau senjata.

Faktor risiko penyebab GPAB adalah paparan bising yang cukup keras (> 85dB) dalam jangka waktu yang cukup lama dan berulang-ulang. Selain paparan bising karena penggunaan perangkat audio personal, GPAB juga dapat disebabkan oleh bising yang berasal dari lingkungan kerja, atau tempat tinggal seperti bandara, pelabuhan laut, pabrik, bengkel, ruang praktek SMK teknik mesin, jalan raya, musik keras dan lainnya.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA