Tuesday, 1 Rajab 1441 / 25 February 2020

Tuesday, 1 Rajab 1441 / 25 February 2020

Bentuk Cinta Warga Malang Terhadap Almarhum KH Hasyim Muzadi

Kamis 16 Mar 2017 17:09 WIB

Rep: Christiyaningsih/ Red: Bayu Hermawan

 Suasana kedatangan jenazah KH Hasyim Muzadi di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis (16/3).

Suasana kedatangan jenazah KH Hasyim Muzadi di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis (16/3).

Foto: Republika/Prayogi

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Kamis pagi (16/3) berita duka datang dari Pondok Pesantren Al-Hikam yang berada Jalan Cengger Ayam Tulusrejo Lowokwaru Kota Malang. Pengasuh Ponpes Al-Hikam KH Hasyim Muzadi telah tutup usia pada pukul 06.15. Tak berselang lama setelah berita ini menyebar, kabar duka berkumandang melalui pengeras suara masjid-masjid yang ada di Kota Malang.

Lucky Aditya Ramadhan, warga sekitar masjid Al-Amin di Jalan Gatot Subroto Gang II Sukoharjo Kota Malang mengatakan masjid langsung menggelar khataman usai mengumumkan berita lelayu (kabar duka) ini. "Tadi pagi setelah diumumkan langsung khataman untuk abah Hasyim," katanya.

Di Masjid Noor Kidul Pasar, takmir masjid menggelar shalat ghaib usai mengumumkan kabar duka. Lingkungan kidul pasar, alias selatan Pasar Besar, bukan tempat asing bagi Kiai Hasyim. Ia pernah besar di lingkungan ini dan menjadi anggota Banser.

Kecintaan masyarakat Malang terhadap pria 72 tahun tersebut juga tercermin dari banyaknya pelayat yang hadir di kediamannya. Masjid Al-Ghozali tempat jenazah disemayamkan tak muat menampung jamaah yang ingin menshalatkan.

Ribuan pelayat memadati komplek Ponpes Al-Hikam. Total ada 26 gelombang shalat jenazah yang dilaksanakan sejak pukul 08.00 sampai menjelang dzuhur. Tiap gelombang shalat jenazah diikuti oleh ratusan jamaah. Sejumlah santri di ponpes itu tampak tak kuasa menahan air mata melihat kiai panutannya pergi untuk selamanya.

Putra pertama almarhum, Abdul Hakim, menuturkan abahnya sudah berpesan jika meninggal ingin dimakamkan di Ponpes Al-Hikam Depok. "Sudah wasiat abah ingin dimakamkan di sana jika meninggal," kata Gus Hakim sebelum upacara pemberangkatan jenazah.

Sebelum meninggal, kyai asal Bangilan Tuban tersebut meninggalkan wasiat kepada putra-putrinya. "Wasiat itu disampaikan secara personal kepada masing-masing anak," ucapnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA