Thursday, 12 Syawwal 1441 / 04 June 2020

Thursday, 12 Syawwal 1441 / 04 June 2020

Ancaman White Supremacy di Amerika

Kamis 09 Mar 2017 14:31 WIB

Rep: Fuji E Permana/ Red: Agung Sasongko

Shamsi Ali

Shamsi Ali

Foto: Republika/Yogi Ardhi

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Imam Besar Masjid New York, Imam Shamsi Ali mengatakan, kebutaan sejarah atau pembutaan sejarah Amerika sangat kuat. Warga Amerika kulit putih yang sejatinya adalah pendatang juga atau keturunan imigran Eropa tiba-tiba terbalik dan seolah mereka adalah warga Amerika asli (pribumi).

"Sebaliknya siapapun yang berkulit nonputih mereka seolah adalah pendatang, nonpribumi atau imigran," kata Imam Shamsi kepada Republika.co.id melalui keterangan tertulisnya, Kamis (9/3).

Pembalikan sejarah dengan didukung sistem yang ada dinilai telah menjadikan warga kulit putih yang ekstrim semakin di atas angin. Sehingga mereka melakukan apa saja untuk menjadikan nonputih seolah bukan warga Amerika yang punya hak kesetaraan dengan mereka. Pergolakan sosial antara kulit hitam dan warga kulit putih di tahun 60-an menjadi catatan sejarah kelam Amerika.

Ia menjelaskan, terpilihnya Barack Obama sesungguhnya sebuah sejarah besar yang terjadi dalam perjalanan bangsa Amerika. Belum berselang lama sejak pergerakan warga kulit hitam di bawah pimpinan Martin Luther Jr. Amerika berhasil memilih seorang nonputih menjadi presidennya.

"Tentu sebuah sejarah yang membanggakan bagi bangsa ini. Akan tetapi di balik kebanggaan itu ternyata juga meninggalkan luka di kalangan mayoritas kulit putih," jelasnya.

Dikatakan dia, setelah sekian lama Amerika merdeka, ternyata belum sepenuhnya siap dipimpin oleh seorang non putih yang dianggap bagian dari minoritas. Ia menegaskan, asumsinya masih saja kuat bahwa non putih itu masih lekat dengan atribut imigran.

Ketidak senangan (displeasure) yang dirasakan oleh sebagian besar warga kulit putih di Amerika terwakili oleh sikap Donald Trump dan petinggi Republikan. Mereka melakukan upaya apa saja untuk menghalangi dan menjatuhkan Barack Obama.

"Donald Trump misalnya ketika itu mencari sekuat mungkin akte lahir Barack Obama, yang dicurigai lahir di luar negeri. Maklum ayahnya adalah seorang warga Kenya dan hanya pernah sekolah di Harvard University bersama ibunya," ujarnya.

Menurut Imam Shamsi yang juga Presiden Nusantara Foundation, sentimen kebencian sebagian besar kulit putih terhadap Presiden Obama itulah yang berhasil dimainkan oleh Donald Trump dalam kampanye. Modal rasisme menjadi salah satu modal utama Donald Trump memenangkan kursi kepresidenan.

Mungkin dalam sejarah pemilihan presiden di Amerika, dikatakan dia, baru kali ini ada seorang kandidat yang secara terbuka dan terang-terangan didukung kelompok kristen teroris yang disebut KKK. Dukungan tersebut juga tidak diingkari oleh Donald Trump.

"Kini terpilihnya Donald Trump, kelompok ekstrim putih yang dikenal dengan White Supremacist semakin menjadi-jadi," ujarnya.

Ia menceritakan, di masa lalu kelompok ekstrim putih kerap menteror imigran dan kelompok minoritas lainnya sebagai perilaku sporadis di sana sini. Kini mereka seolah mendapat justifikasi sistem. Artinya tindakan rasisme kulit putih dan kekerasan yang mereka lakukan itu seolah sudah menjadi bagian dari kebijakan pemerintahan Amerika saat ini.

Beberapa kebijakan dalam beberapa hari pemerintahan Donald Trump telah memperlihatkan fenomena anti non kulit putih. Mulai dari kebijakan melarang orang Islam dengan Executive Order I dan II, sampai kepada kebijakan imigrasi untuk mendeportasi warga yang tidak bersurat (undocumented).

Bahkan baru-baru ini juga sedang dilakukan upaya penghapusan dan penggantian asuransi kesehatan Obama yang dikenal dengan nama Obamacare. "Saya melihat semua ini tidak lepas dari karakter para pemain di pemerintahan Donald Trump yang memang bias dan rasis," ujar Imam Shamsi.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA