Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

947 Orang Mengungsi Akibat Banjir di Kabupaten Bandung

Rabu 08 Mar 2017 21:46 WIB

Red: Yudha Manggala P Putra

Banjir di permukiman warga /ilustrasi

Banjir di permukiman warga /ilustrasi

Foto: Antara

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung menyebut saat ini terdapat 947 pengungsi terdampak banjir di tiga kecamatan yakni Baleendah, Dayeuh Kolot, dan Bojong Soang, Kabupaten Bandung.

"Seluruhnya ada 271 kepala Keluarga (KK) atau 947 jiwa di tiga kecamatan tersebut," kata Ketua Pelaksana BPBD Kabupaten Bandung Tata Irawan di Baleendah, Rabu (8/3).

Tata menuturkan, seluruh pengungsi ditempatkan di 12 titik lokasi pengungsian seperti di Gor Inkanas Baleendah, Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Baleendah, Gor Kelurahan Baleendah, Koramil Dayeuh Kolot, Aula Desa Dayeuh Kolot, serta di Masjid-masjid sekitar. "Yang paling banyak di Gor Inkanas 277 jiwa dari 75 KK (kepala keluarga)," kata Tata.

Ia mengatakan, saat ini ketinggian air di tiga kecamatan tersebut sudah menyurut. Sebelumnya air dapat mencapai hingga dua meter pada level tertinggi. Hal ini disebabkan karena cuaca cerah di wilayah Bandung Raya pada Rabu (8/3).

"Alhamdulillah hari ini kan nggak hujan, air tidak setinggi seperti kemarin. Saat ini berkisar antara 20 hingga 220 cm," kata dia.

Meski begitu, para pengungsi belum meninggalkan tempat pengungsian karena dikhawatirkan ketinggian air kembali meningkat.

Pihaknya pun telah menyiagakan 30 personil BPBD ditambah dari berbagai relawan untuk mengantisipasi serta mengevakuasi warga yang masih terjebak banjir. Selain itu, BPBD Kabupaten Bandung menyiagakan tiga perahu karet yang disiapkan di GOR Inkanas, Baleendah.

"Seluruhnya ada 15 perahu karet semuanya sudah disiagakan di lokasi banjir, dan tiga kami siapkan di posko," kata dia.

Sementara itu, salah satu pengungsi di GOR Inkanas Oyoh Rohayah mengaku dirinya sudah tinggal di pengungsian selama hampir dua minggu. Ia bersama istri dan keempat orang anaknya harus rela meninggalkan kediamannya, sebab hampir seluruh badan rumah telah terendam banjir.

"Barang-barang juga kami tinggalkan, ke sini (posko) hanya bawa baju sama barang berharga yang bisa di bawa," kata dia.

Ia pun berharap pemerintah baik daerah maupun provinsi kembali memberikan bantuan berupa makanan, obat-obatan, serta air bersih untuk keperluan mandi dan mencuci. "Ke air mesti ngantre, kan banyak pengungsi juga. Kadang saya dua sampai tiga hari baru mandi," ujarnya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA