Monday, 10 Muharram 1444 / 08 August 2022

Indikator Masjid Jadi Pusat Peradaban adalah Eksistensi Perpustakaan

Selasa 28 Feb 2017 02:26 WIB

Rep: reja Irfa Widodo/ Red: Agung Sasongko

Perpustakaan Masjid Nabawi di Madinah, Arab Saudi.  (Republika/Amin Madani)

Perpustakaan Masjid Nabawi di Madinah, Arab Saudi. (Republika/Amin Madani)

Foto: Republika/Amin Madani

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Program Officer Islam and Development, Asia Foundation, Budhy Munawar Rachman, menilai, perkembangan Islam sebagai sebuah peradaban di Indonesia sebenarnya sempat terhenti saat masuknya penjajah dan kolonialisme. Namun, umat Islam di Indonesia saat ini memiliki kesempatan untuk meneruskan perkembangan Islam sebagai sebuah peradaban di Indonesia.

Budhy menambahkan, pusat-pusat kebudayaan Islam di Indonesia memang tidak berada di masjid, melainkan di Pondok Pesantren dan Organisasi Massa (Ormas) Islam. Hal ini berbeda dengan negara-negara Muslim lain, seperti yang ada di Asia Tengah ataupun Asia Selatan.

''Pusat kehidupan komunitas memang ada di Masjid, tapi itu untuk ibadah. Sementara untuk pusat, dalam hal ini kebudayaan atau peradaban, memang baru-baru sekarang ini,'' ujar Budhy, yang juga merupakan pengajar di Universitas Paramadina, tersebut, Senin (27/2).

Untuk membangun masjid sebagai pusat kebudayaan dan peradaban, Budhy menjelaskan, masjid dapat mengembangkan dan memiliki perpustakaan. Kehadiran perpustakaan ini dapat menjadi indikator sebagai pusat kebudayaan dan peradaban. Saat ini, sejumlah masjid-masjid besar memang saat ini telah memiliki perpustakaan.

Selain berisi Alquran dan kitab-kitab keagamaan, perpustakaan ini pun diharapkan memiliki buku-buku tentang pemikiran Islam. ''Jadi kalau ada perpustakaan, kita bisa mengembangkan wacana atau pemikiran, terutama mengenai wacana keislaman, kemodernan, dan keindonesiaan,'' kata Budhy. 

Selain itu, dalam mendukung fungsi pusat peradaban dan kebudayaan, masjid dapat didorong untuk menggelar dialog-dialog antar agama. Fungsi ini, kata Budhy, yang masih dianggap kurang di masjid-masjid di Indonesia. Bahkan, di sejumlah wilayah di Indonesia, menurut Budhy, masih ada masjid-masjid yang tidak terbuka dan tidak memperbolehkan non muslim masuk ke dalam masjid.

''Dialog antar agama perlu dilakukan di masjid. Nantinya tokoh-tokoh agama itu bisa saling sharing, bagaimana kita merawat keragaman agama. Saya kira itu, inilah bagian yang paling kurang dari fungsi masjid untuk membangun peradaban,'' katanya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA