Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

Pengajaran Sastra di Indonesia Mengalami Pergeseran Signifikan

Rabu 22 Feb 2017 08:50 WIB

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Agus Yulianto

Penyair Taufiq Ismail

Penyair Taufiq Ismail

Foto: Republika / Darmawan

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Sejak tahun 1950 sampai kini, pemerintah menghilangkan kurikulum yang mewajibkan para siswa untuk membaca buku-buku sastra dan menulis karangan. Padahal, kata Sastrawan Minangkabau Taufiq Ismail, kurikulum demikian terbukti telah melahirkan generasi-generasi unggul sekaliber Bung Hatta dan sejawatnya di hampir seluruh daerah Indonesia, termasuk Ranah Minang.

Dalam mengatur sistem pendidikan menengah Algemene Middelbare Schoo/setingkat SMA kini (AMS), kata penyair Angkatan 66 ini, pemerintah Hindia Belanda menerapkan kurikulum yang mewajibkan para siswa, termasuk yang Pribumi, untuk membaca karya-karya sastra dan menulis karangan. Bahkan, bahasa yang dipakai bukan hanya Melayu (Indonesia) atau Belanda, melainkan juga bahasa Inggris, Prancis, atau Jerman (ketiganya negara tetangga Belanda di Eropa).

"Karena itu, tak heran bila para Bapak Bangsa Indonesia fasih berbahasa asing atau bahkan menjadi poliglot (menguasai empat atau lebih bahasa asing). Mereka pun tampil sebagai orator yang memukau atau diplomat yang ulung di kancah internasional," ungkap Taufiq Ismail, Rabu (22/2).

Dikatakannya, ketekunan membaca buku-buku sastra, tak lantas mengharuskan orang menjadi sastrawan, melainkan menumbuhkan empati kemanusiaan. Bagi Taufiq Ismail, kualitas kurikulum Hindia Belanda itu setara dengan kurikulum Amerika Serikat hari ini.

Karena itu, Taufiq Ismail berharap, Pemprov Sumatra Barat semakin terpacu untuk meningkatkan pendidikan literasi di tengah generasi muda. Minang Book Fair dapat menjadi tonggak awal yang penting.

“Kegiatan literasi di Sumatera Barat sampai kini berlangsung terus, dengan menerobos hambatan merosotnya pengajaran membaca buku dan menulis karangan di sekolah-sekolah, yang bersifat nasional. Kemerosotan ini sudah berlangsung 67 tahun lamanya, sejak pengakuan kedaulatan RI (tahun 1949),” tukas sastrawan kelahiran Bukittinggi ini.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA