Tuesday, 10 Syawwal 1441 / 02 June 2020

Tuesday, 10 Syawwal 1441 / 02 June 2020

Kematian Ibu dan Bayi di Indramayu Sangat Tinggi

Ahad 19 Feb 2017 17:46 WIB

Rep: Lilis Handayani/ Red: Citra Listya Rini

Bidan, ibu dan bayi.

Bidan, ibu dan bayi.

Foto: AP

REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU  -- Jumlah kematian ibu dan bayi di Kabupaten Indramayu, sangat tinggi. Padahal, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu, Deden Boni Koswara menyebutkan, sejak Januari 2017 hingga saat ini, jumlah kematian ibu di Kabupaten Indramayu ada lima kasus.

Sementara jumlah kematian bayi hingga kini masih dilakukan pengumpulan data. Sepanjang 2016 lalu, jumlah kematian ibu di Kabupaten Indramayu ada 60 kasus. Sedangkan kematian bayi, ada 314 kasus. ‘’Ini sangat tinggi,’’ kata Deden saat ditemui akhir pekan ini.
 
Deden menyebutkan, di Jabar, jumlah kematian ibu di Kabupaten Indramayu menempati rangking ketiga tertinggi. Sedangkan jumlah kematian bayi, menempati rangking kedua tertinggi di Jabar.
 
Deden menyebutkan, ada tiga factor penyebab tingginya kasus kematian ibu dan bayi di Indramayu. Yakni dari faktor masyarakat, puskesmas sebagai fasilitas kesehatan pertama dan rumah sakit sebagai fasilitas kesehatan kedua.
 
Untuk faktor masyarakat, terang Deden, masih ada persalinan ibu melahirkan yang ditolong oleh dukun. Selain itu, mereka juga terlambat datang ke fasilitas kesehatan karena khawatir masalah biaya maupun kekhawatiran lainnya.
 
Sedangkan dari faktor puskesmas, Deden menyebut hal itu menyangkut kompetensi petugas kesehatan, termasuk kemampuan bidan. Sementara dari faktor rumah sakit, selain karena memang semua pasien yang dirujuk sudah dalam kondisi kurang baik, sarana dan prasrana di rumah sakit juga ada yang masih kurang.
 
Ketika ditanyakan adanya bidan desa yang belum tinggal di desa tempat mereka bertugas, Deden mengakuinya. Dia pun meminta semua bidan desa tinggal di desa tempat mereka bertugas.
 
‘’(Bidan desa harus tinggal di desa) karena persalinan di jam kerja harus dilayani di fasilitas kesehatan yakni puskesmas,’’ kata Deden.
 
Guna menurunkan tingginya kasus kematian ibu dan bayi, Deden mengungkapkan, ada dua program yang disiapkan. Yakni program siaga ibu bayi indramayu (Sibayu) dan desa siaga (Sidesi).
 
Khusus untuk program Sidesi, terang Deden, pada tahun ini disiapkan minimal satu desa siaga per puskesmas. Dengan jumlah 49 puskesmas di Kabupaten Indramayu, maka minimal akan ada 49 desa yang akan jadi contoh desa siaga.
 
Tak hanya itu, Bupati Indramayu, Anna Sophanah, juga telah mengeluarkan Perbup No 31 Tahun 2016 tentang Penyelamatan Ibu, Bayi Baru Lahir dan Anak Balita. Dalam perbup tersebut dijelaskan mengenai upaya-upaya penyelamatan ibu, bayi baru lahir dan balita.
 
Koordinator Forum Masyarakat Madani Dharma Ibu dan Bayi, Darwini berharap Perbub Nomor 31 Tahun 2016 tentang Penyelamatan Ibu, Bayi Baru Lahir dan Anak Balita disosialisasikan sampai ke tingkat desa. Perbub itu mengatur agar masing-masing desa membuat perdes tentang kesehatan ibu melahirkan.
 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA