Monday, 28 Zulqaidah 1443 / 27 June 2022

Imam Masjidil Haram Ajak Masyarakat Hidup Damai

Kamis 16 Feb 2017 18:51 WIB

Rep: Qommarria Rostanti/ Red: Agus Yulianto

Imam Masjidil Haram, Dr. Hasan Abdul Hamid Bukhori

Imam Masjidil Haram, Dr. Hasan Abdul Hamid Bukhori

Foto: Salingsapa

REPUBLIKA.CO.ID, DOHA -- Imam Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi, Syekh Saleh bin Abdullah bin Hamid, mengajak, masyarakat hidup damai dan harmonis. Hal tesebut dia sampaikan dalam sebuah acara yang diselenggarakan Kementerian Wakaf dan Urusan Islam di Dafna, Qatar, beberapa waktu lalu.

"Koeksistensi sangat penting hari ini. Islam memberikan fokus khusus pada itu, dan sangat jelas ditampilkan dalam kehidupan sosial di Kota Suci Madinah selama era Nabi Muhammad SAW dan juga selama masa Khulafaur Rasyidin," ujarnya seperti dikutip dari The Peninsula Qatar.

Syekh Saleh mengatakan, Islam berfokus pada koeksistensi dengan pengampunan sebagai elemen dasar. Masyarakat Madina selama zaman Nabi Muhammad SAW baik itu Muslim, Yahudi, Kristen hidup bersama. Koeksistensi hidup bersama-sama dengan situasi dan berbeda tujuan.

"Ini tidak berarti mengabaikan orang lain, tetapi untuk berbagi kehidupan antara orang-orang. Koeksistensi harus datang dari dalam sehingga hubungan positif didirikan antara orang-orang dalam bermasyarakat," kata dia.

Dia menyebut, dalam Alquran dan hadis, secara terang menjelaskan bahwa manusia diciptakan berbeda-beda agar dapat membentuk masyarakat yang terintegrasi. "Perbedaan dapat ditangani melalui ideologi keterbukaan karena pikiran yang sempit tidak bisa menghadirkan opsi apapun. Memahami orang lain tidak berarti harus yakin dengan pendapat lain, tapi menghormati pandangan lain tesebut," ujarnya.

Keberadaan sekte, mazhab pemikiran, orang, dan suku adalah bawaan sejak lahir dengan sifat manusia. Dia menyebut, keeksistensian dapat dicapai hanya melalui prinsip persaudaraan, reformasi diri, kesetaraan, cinta, kasih dan kesabaran. Negara-negara Teluk misalnya, telah menunjukkan contoh kerja sama ideal dan harmonis meski terjadi beberapa konflik di wilayah tersebut.

Mereka telah tinggal bersama-sama mendukung satu sama lain keamanan dan stabilitas di sana. "Kita harus hidup berdampingan sebagai individu, keluarga, masyarakat dan negara untuk kepentingan semua manusia sebelum kehilangan segalanya," ujar Syekh Saleh.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA