Tuesday, 10 Rabiul Awwal 1442 / 27 October 2020

Tuesday, 10 Rabiul Awwal 1442 / 27 October 2020

Hormati Pemuka Agama

Senin 13 Feb 2017 13:28 WIB

Rep: Reja Irfa Widodo/ Red: Agung Sasongko

Ketua Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI), Pdt Albertus Patty (kanan).

Ketua Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI), Pdt Albertus Patty (kanan).

Foto: Republika/Agung Supriyanto

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam setiap agama, menghormati para pemuka  adalah sebuah keniscayaan. Kiai dan ulama, pendeta dan pastur, biksu hingga resi dan pandita memiliki kedudukan yang layak untuk dihormati. Pemimpin agama ini pun kerap mengambil peran sebagai guru dan penuntun umat.

Ketua Umum Parisadha Buddha Dharma Niciren SyoSyu Indonesia (NSI) Suhadi Sandjaja mengungkapkan, sebagai makhluk beragama,  sudah sepatutnya setiap pemeluk agama menghormati pemuka atau pemimpin agamanya. Di dalam ajaran Buddha, dia menjelaskan, ada empat pemimpin kerohanian atau biasa disebut sebagai murid Buddha.

Mereka adalah biksu, biksuni, upasaka, dan upasika. "Jadi, empat golongan murid ini adalah yang sungguh-sungguh bertekad menjalankan ajaran Buddha dalam kehidupannya. Perbedaannya, biksu dan biksuni ini tidak atau meninggalkan keluarga, sedangkan upasaka dan upasika adalah murid Buddha yang berkeluarga," ujarnya kepada Republika, Ahad (5/2).

Dia mengungkapkan, empat golongan tersebut adalah murid yang betul-betul ingin mengamalkan ajaran Buddha dalam kesehariannya. Pada dasarnya, ujar Suhadi, umat Buddha sudah memberikan hormat kepada mereka. Namun, kehormatan yang dipersembahkan kepada murid-murid Buddha tersebut memang tidak serta-merta melekat.

Menurut Suhadi, kehormatan yang telah diberikan tergantung pada keteladanan dan kesungguhan mereka dalam mewujudkan ajaran-ajaran Buddha. "Jadi, lebih lanjut mereka harus memberikan sikap dan perilaku yang layak diteladani. Ini konsekuensi dari gelar yang mereka (murid Budhha) terima itu," ujarnya.

Suhadi pun ikut mengomentari saat Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma'ruf Amin dihardik di persidangan kasus penistaan agama. Suhadi berpendapat, seharusnya semua pihak bisa menjaga kehormatan yang disandang seorang pemimpin keagamaan. "Sebaiknya yang bersangkutan bisa sembilan kali berpikir baru berucap. Jangan terbalik. Ini filosofi Buddhis. Jadi, kita harus mempertimbangkan berkali-kali apa yang ingin kita kemukakan," kata dia.

Tak cuma ajaran Buddha,  umat Kristen pun selalu memberikan hormat kepada pemimpin kerohanian mereka.  Ketua Persatuan Gereja Indonesia (PGI) Albertus Patty mengungkapkan, kendati menyandang status terhormat, bukan berarti pemimpin kerohanian dalam Kristen dapat terbebas dari kritik ketika perbuatan atau perilakunya menyimpang.

"Oleh sebab itu, kita boleh mengkritisi perbuatan imam kita ketika mereka menyimpang. Tapi, pada dasarnya pemimpin kerohanian itu tetap kami hormati karena dia dianggap mewakili Tuhan di bumi ini," ujar Albertus.

Di dalam ajaran Islam, kalangan yang diamanahkan untuk membina dan menuntun umat pascaberakhirnya era kenabian adalah ulama. Oleh sebab itu, ulama menduduki posisi tersendiri dalam hal pengajaran dan pengamalan nilai-nilai agama penutup ini.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA