Thursday, 3 Rajab 1441 / 27 February 2020

Thursday, 3 Rajab 1441 / 27 February 2020

Diuji Ulang, Penelitian Kanker Terkemuka Tunjukan Hasil Beragam

Jumat 03 Feb 2017 07:07 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Winda Destiana Putri

Penelitian. Ilustrasi

Penelitian. Ilustrasi

Foto: Sciencemag
<p>REPUBLIKA.CO.ID, Upaya untuk meniru temuan dari lima penelitian terkemuka mengenai kanker ternyata menunjukkan hasil yang beragam. Tim pereplika mengatakan tidak ada satupun dari lima penelitian kanker terkemuka yang mereka uji benar-benar dapat diproduksi ulang.

Melalui jurnal yang diterbitkan di eLife, tim peneliti dari Reproducibility Project: Cancer Biology mengatakan mereka tidak dapat membuktikan satupun hasil temuan dari lima penelitian kanker yang mereka uji ulang. Dalam beberapa kasus, tim pereplika ini melihat hasil akhir yang cukup mirip dengan hasil penelitian asli akan tetapi analisa statistik tidak dapat mengesampingkan bahwa temuan-temuan tersebut hanya 'kebetulan'.

Direktur Eksekutif Center for Open Science Brian Nosek mengatakan masih terlalu dini untuk menyimpulkan seberapa bisa dipercayanya penelitian-penelitian seputar kanker yang telah ada saat ini. Oleh karena itu, melalui penelitian ulang ini, Nosek berharap beberapa ketidakpastian terkait penelitian kanker bisa dikurangi.

Baca juga: Ilmuwan Optimistis Ponsel Bisa Deteksi Kanker

Dengan menggandeng Science Exchange, Nosek dan tim melakukan penelitian replika terhadap 50 jurnal penelitian yang paling banyak diunduh dalam periode 2010-2015. Dalam proses mereplika penelitian, tim pereplika mengikuti tiap metode yang dilakukan dalam penelitian asli. Tim pereplika juga kerap melakukan konsultasi dengan tim-tim peneliti original terkait tips dan bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian.

Saat ini, tim pereplika telah menerbitkan lima dari 50 penelitian ulang mereka pada jurnal eLife. Kelima temuan tersebut akan dievaluasi sebagai satu kesatuan untuk menentukan faktor-faktor yang berujung pada kegagalan replikasi.

Beberapa kritikus menilai kegagalan penelitian batch pertama ini dilatarbelakangi oleh kurangnya akurasi tim pereplika dalam meniru prosedur penelitian dari tim peneliti original. Salah satu kritik ini datang dari ahli biologi kanker asal Sanford Burnham Prebys Medical Discovery Institute, Erkki Ruoslahti.

Penelitian Ruoslahti dan tim pada 2010 yang dimuat dalam jurnal Science terkait iRGD yang membantu obat kemoterapi masuk ke dalam tumor dan meningkatkan efikasi obat termasuk salah satu penelitian yang diuji ulang oleh tim pereplika. Tim pereplika mengungkapkan bahwa mereka tidak dapat mengonfirmasi klaim tersebut setelah melakukan penelitian ulang. "Saya rasa desain penelitian mereka dirancang untuk membuat kami terlihat sangat buruk," kata Ruoslahti seperti dilansir Science News.

Hal sednada juga diungkapkan oleh peneliti-peneliti lain yang hasil penelitiannya juga direplika oleh tim pereplika. Peneliti Atul Butte yang penelitiannya juga tidak berhasil direplika menilai bahwa masalah yang dimiliki oleh tim pereplika adalah analisa statistik yang dilakukan. Alasannya, tim pereplika juga mendapatkan hasil yang sangat mirip dengan hasil penelitian yang Butte lakukan dalam penelitian original.

Terkait hal ini, ahli biologi kanker dari Center for Open Science, Tim Errington, mengatakan bahwa tim pereplika tidak pernah bertujuan untuk membuat siapapun terlihat buruk. Errington menilai masalah teknis mungkin membuat upaya mereplikasi terganggu. Akan tetapi, hal ini merupakan data bernilai untuk menentukan kenapa peneliti-peneliti independen sering kali tidak dapat mereproduksi hasil temuan yang mereka pubikasi. Menemukan kelemahan-kelemahan ini, terang Errington, dapat membantu para ilmuwan unutk merancang penelitian yang lebih baik. Dengan begitu, penelitian yang dilakukan akan menjadi lebih efektif.

Oleh karena itu, ahli saraf dari University of California yang pernah melakukan penelitian replika, Oswald Steward, menilai kegagalan dalam mereplika sebaiknya tidak dianggap sebagai indikasi bahwa temuan original tidak tepat. Sebaliknya, kegagalan dalam mereplika dapat meningkatkan kembali perhatian peneliti. Ketika peneliti melakukan sebuah program penelitian atau berupaya menciptakan terapi baru, terang Steward, penting untuk memastikan bahwa temuan original merupakan temuan yang pasti dan tidak mungkin berubah. "Kami para ilmuwan harus bisa menguasai masalah ini," kata Steward yang tidak terlibat dalam penelitian replika oleh Center for Open Science.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA