Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

ITS Ciptakan Alat Pemantau Kualitas Udara Ekonomis

Rabu 01 Feb 2017 19:12 WIB

Rep: Binti Sholikah/ Red: Winda Destiana Putri

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya

Foto: wikipedia

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA – Laboratorium Pengendalian Pencemaran Udara di Departemen Teknik Lingkungan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya merancang sebuah alat pemantau kualitas udara dengan harga ekonomis. Alat pantau udara ITS ini dirancang menggunakan sensor sehingga harganya jauh lebih murah dibandingkan alat pantau udara di pasaran. 

Kepala Laboratorium, Arie Dipareza Syafei mengatakan, menilik data lima stasiun pemantau udara di Kota Surabaya, kondisi udara di Surabaya acap melebihi baku mutu. Kondisi ini dikhawatirkan dapat mengganggu kesehatan warganya.

"Namun, data dari stasiun pemantau kerap kali hilang dikarenakan adanya kerusakan pada alat," kata dosen yang akrab disapa Arie tersebut melalui siaran pers, Rabu (1/2). Umumnya, alat pantau udara yang menggunakan sistem gas analyzer. Sementara alat pantau milik ITS ini menggunakan sensor. Penggunaan sensor inilah yang menyebabkan perbedaan harga dengan alat-alat yang tersedia saat ini.

"Dengan sensor electrochemical, alat ini sudah mampu membedakan polutan dalam dua jenis gas. Alat ini dapat diakses melalui situs via perangkat masyarakat," jelas doktor lulusan Hiroshima University, Jepang tersebut.

Arie menyebutkan, harga alat pengukur kualitas udara saat ini sekitar Rp 2 miliar. Biaya pembenahannya juga masih dianggap mahal. Sehingga pemerintah kota tidak bisa berbuat banyak saat alat tersebut tidak bekerja dengan baik. Hal ini menjadi dasar bagi Arie dan tim untuk menciptakan alat pemantau udara dengan harga miring.

Arie bersama seluruh laboran dan dua mahasiswanya, Titing Fahriza dan Qory Constantya, bakal terus melakukan pengembangan alat tersebut. Ia dan tim akan memasang harga Rp 80 juta hingga Rp 100 juta saat alat tersebut telah dipatenkan. "Meskipun harganya jauh lebih murah, alat kami memiliki akurasi hingga 90 persen," ungkap Arie.

Ia dan tim telah memasuki prototype yang ketiga. Arie mengaku tidak menghadapi kendala dalam merancang alat ini. Ia dan timnya juga mendapat dukungan penuh dari ITS melalui dana lokal. Alat yang berupa rangkaian elektronika dinilai masih membutuhkan pengembangan berkali-kali. Alat pemantau kualitas udara ini ditargetkan menjadi produk andalan ITS ke depannya. "Harapannya, alat pengukur kualitas udara ini dapat dipasang di seluruh daerah di Indonesia nantinya," ucap Arie.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA