Wednesday, 8 Sya'ban 1441 / 01 April 2020

Wednesday, 8 Sya'ban 1441 / 01 April 2020

Capai dan Lelah

Senin 30 Jan 2017 15:56 WIB

Red: Agung Sasongko

Pria kelelahan (ilustrasi)

Pria kelelahan (ilustrasi)

Foto: Boldsky

Oleh: Abdul Muid Badrun

 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Setiap kita pasti pernah merasa capai dan lelah. Entah lelah karena rutinitas pekerjaan, lelah karena tiap hari yang dilakukan itu-itu saja, lelah karena beban hidup makin berat, atau bahkan lelah karena yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang.  Saya mendefinisikan kata 'capai' terkait kondisi fisik, sedangkan untuk 'lelah' terkait kondisi psikis.
    
Belakangan ini pun muncul kabar bahwa akan ada PHK besar-besaran karena sulitnya ekonomi Indonesia. Tentu, mendengar kabar ini, kita juga lelah melihat para elite berebut kekuasaan. Berebut jabatan. Tak pernah berpikir tentang bagaimana secepatnya memperbaiki ekonomi rakyat. Berpikir saja tidak, apalagi berbuat.

Mereka asyik dengan syahwat politiknya masing-masing. Hingga menghalalkan segala cara. Ujung-ujungnya tertangkap KPK juga.  Padahal, ancaman Allah kepada mereka sangat jelas dan menakutkan (QS an-Nisa: 145 dan QS Ali-Imran: 161). Namun, mengapa tak kunjung jera.
    
Di sisi lain, Presiden sibuk membangun popularitas; DPR sibuk memburu dana untuk mengembalikan investasi politiknya; partai politik sibuk mencari dana untuk pemilu berikutnya; para dosen, ilmuwan dan intelektual sibuk di menara gading agar survive di tengah lonjakan harga, budayawan dan seniman sibuk "mengamen", para orang tua sibuk dengan urusan kantornya, bahkan kita sendiri yang membaca tulisan ini juga larut dalam ritual rutinitas kesibukan kita masing-masing.

Akibat dari semua itu, bangsa ini kehilangan nilai luhurnya (value), yaitu nasionalisme (berpikir dan bertindak untuk dan atas nama bangsa). Masih sedikit yang berpikir tentang masa depan bangsa ini. Padahal jelas, masa depan bangsa ini sangat ditentukan oleh anak-anak yang sekarang berumur 10-20 tahun. Mereka itulah yang saat ini sedang diserang oleh LGBT, Miras dan pornografi, baik lewat tayangan TV maupun gawai mereka masing-masing.

Akibatnya, generasi Indonesia "lemah" dalam bersaing dan "malas" dalam berinovasi. Mereka lebih asyik bermain gawai daripada mengerjakan PR gurunya. Mereka lebih suka main gim daripada belajar mengaji di rumah. Mereka bisa seharian "ngenet" daripada di rumah membaca dan membantu orang tuanya bekerja. Kenyataan inilah yang setiap hari kita saksikan di sekeliling kita.
    
Inilah perang yang sebenarnya terjadi di depan mata dan lingkungan kita. Perang merebut masa depan bangsa ini dari anak-anak kita. Siapakah yang masih peduli pada masa depan bangsa ini? Siapakah yang masih peduli pada nasib anak-anak negeri? Mulailah dari keluarga kita masing-masing.
    
Jangan sampai anak-anak kita direbut masa depannya oleh gawai, LGBT, pornografi dan miras. Melindungi anak-anak berarti ikut merawat masa depan bangsa. Seperti pesan Pak Habibie: "Jangan pernah lelah, jangan pernah kalah." Untuk sebuah kemajuan bangsa ini!

Bahkan, di dalam Alquran tercantum 109 ayat yang terkait dengan kerja keras dan tidak boleh lelah. Bekerja keraslah! (QS al-Ankabut [29]:6). Seperti dalam mantra "Man Jadda Wajada!": Siapa bersungguh-sungguh, dia akan berhasil. Lelah demi kemajuan bangsa adalah lelah yang bernilai ibadah dan nasionalisme.
    
Bangsa ini tidak boleh lelah untuk terus menjaga persatuan dan kesatuan. Apa pun risikonya, persatuan bangsa adalah harga mati bagi bangsa ini. Jangan gadaikan masa depan bangsa dengan bertikai satu sama lainnya hanya untuk kepentingan pribadi atau kelompok semata. Sudahkah kita berlelah-lelah untuk kemajuan diri dan bangsa? Jangan sampai kecewa menghampiri kita.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA