Wednesday, 7 Zulhijjah 1443 / 06 July 2022

Lima Langkah Pertamina Perbaiki Kinerja Operasional Kilang

Rabu 25 Jan 2017 09:56 WIB

Rep: Frederikus Bata/ Red: Nidia Zuraya

Kilang minyak

Kilang minyak

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  PT Pertamina (Persero) mencanangkan lima langkah prioritas untuk memperbaiki kinerja operasional kilang perusahaan yang diharapkan meningkatkan ketahanan pasokan dan penurunan impor bahan bakar minyak (BBM). Direktur Pengolahan Pertamina Toharso mengungkapkan langkah-langkah perbaikan tersebut mencakup lima aspek, yaitu Health, Safety, Security, and Environment (HSSE), Keandalan, Efisiensi, Optimasi dan perbaikan Organisasi dan Pengembangan SDM.

Kelima aspek tersebut, tuturnya, sangat penting untuk meningkatkan ketahanan pasokan BBM. Dari aspek HSSE, tuturnya, fokus utama adalah tidak ada kejadian kecelakaan kerja yang dapat menimbulkan fatality. 

Selain fatality, tuturnya, Pertamina akan seaktif mungkin untuk mencegah terjadinya pencemaran akibat operasi kilang. Adapun, keandalan kilang difokuskan pada upaya mencapai zero unplanned shutdown. Dia mencontohkan salah satu upaya untuk mencapainya, dilakukan dengan cara konsisten dan disiplin pada jadwal pemeliharaan kilang baik yang bersifat parsial maupun menyeluruh.

"Kami juga akan meningkatkan efektivitas inspeksi sehingga dapat diketahui secara lebih dini sebelum alat rusak. Pada prinsipnya apabila kita bisa tekan angka kehilangan waktu operasi, kinerja kilang semakin baik dan produksi bisa sesuai target dan pada akhirnya pasokan BBM nasional semakin andal," tutur Toharso lewat siaran pers, Rabu (25/1).

Aspek ketiga adalah efisiensi melalui beberapa langkah, dengan fokus utamanya mengurangi working losses hingga 50 persen dibawah realisasi pada 2016. Selain mengurangi losses, Toharso juga akan melakukan pengadaan bahan maupun peralatan kilang secara terpusat sehingga dapat menurunkan biaya.

Aspek keempat optimasi yang fokus pada upaya peningkatan yield valuable product menjadi 79 persen dari saat ini sekitar 74 persen. Pertamina juga menargetkan penurunan biaya operasi hingga menjadi hanya 3 dolar AS per barel. 

"Contoh seperti di Kasim operasinya biasanya hanya sekitar 120 hari dalam setahun. Kami ingin tingkatkan. Apabila masalahnya ketiadaan crude, kami akan bangun infrastruktur yang memungkinkan crude bisa masuk memenuhi kebutuhan feedstock RU VII Kasim di Sorong," ujar Toharso. 

Aspek terakhir adalah Organisasi dan Pengembangan SDM. Perubahan organisasi pada Oktober 2016 melalui pembentukan Direktorat Pengolahan yang melahirkan kebutuhan formasi sumber daya manusia. 

"Oleh karena itu kami akan kembali membuka peluang kerja baru untuk mengisi posisi-posisi engineer yang akan ditinggalkan oleh pekerja yang memasuki usia pensiun," kata Toharso.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA