Friday, 9 Jumadil Akhir 1442 / 22 January 2021

Friday, 9 Jumadil Akhir 1442 / 22 January 2021

Roh Jihad Ekonomi Umat

Selasa 17 Jan 2017 14:00 WIB

Red:

Secara pribadi melalui akun Twitter @Dahnilanzar, saya mengajak jamaah Muhammadiyah, khususnya kader Pemuda Muhammadiyah seluruh Indonesia  untuk setop membeli Sari Roti. Ajakan tersebut dilatarbelakangi sikap Sari Roti yang saya anggap tidak kompatibel dengan suasana kebatinan umat Islam, terkait aksi massa terbesar dalam sejarah, yakni 411 dan 212. Terus terang, reaksi terhadap ajakan tersebut di luar perkiraan saya.

Secara serentak, jamaah Muhammadiyah dan Pemuda Muhammadiyah di berbagai daerah melakukan boikot. Bahkan, jamaah non-Muhammadiyah melakukan hal serupa. Dampaknya, langsung dialami Sari Roti. Nilai saham perusahaan yang memproduksi Sari Roti turun signifikan. Di mini market dan swalayan, penjualan Sari Roti menurun. Ada solidaritas atau ukhuwah yang mendorong aksi bersama tersebut.

Selain itu,  berbagai ajakan yang membangun ukhuwah setelah aksi besar 212 mendapat reaksi luar biasa. Contohnya, aksi Shalat Subuh berjamaah di masjid, yang diramaikan ribuan jamaah. Banyak pembelajaran dari penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama. Bagi mereka yang bingkai pikirnya politik selalu memaknai peristiwa tersebut secara politis. Namun, bagi yang berpikir holistik, ada kekuatan lahir dari peristiwa ini, yaitu munculnya  ukhuwah.

Dalam kasus Sari Roti, ada potensi kekuatan yang bisa membangkitkan 'raksasa tidur', yakni ekonomi umat yang selama ini dianggap tertinggal. Presiden Joko Widodo pernah menyatakan, dalam pertemuan dengan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, tidak lebih dari 1,5 persen pengusaha yang memiliki pengaruh kuat terhadap perekonomian Indonesia.

Pertanyaannya, ada berapa pengusaha Muslim dari 1,5 persen tersebut yang memiliki pengaruh kuat di pasar Indonesia? Perkiraan saya, tidak sampai 10 persen padahal pasar utama ekonomi Indonesia adalah umat Islam. Bila melihat anatomi ekonomi Indonesia, 80 persen kue ekonomi dikuasai 10 persen orang Indonesia. Sedangkan 20 persennya diperebutkan 90 persen lagi orang Indonesia dan para pengusaha Muslim sangat kecil menguasai kue ekonomi.

Umat Islam kalah dalam persaingan ekonomi domestik. Kekalahan dalam kompetisi ekonomi, berefek ganda bagi kekalahan umat dalam ruang kompetisi lainnya. Termasuk dalam kompetisi politik yang oligopoli  dan dipenuhi  watak transaksional sehingga kekuatan politik yang didukung penuh modal besar selalu sukses merebut kekuasaan, yang pada ujungnya semakin menggeser peran ekonomi umat Islam.

Pada akhirnya, kebijakan politik negara tidak berpihak pada suasana kebatinan umat Islam sebagai umat mayoritas di Indonesia. Si mayoritas  yang selama ini 'mengalah' menurunkan egoisme. Misalnya, dalam sidang BPUPKI pada 18 Agustus 1945. Namun, kuantitas yang mayoritas itu tidak berbanding lurus dengan kapasitas dan kekuatan modal yang mayoritas pula. Umat Islam kehilangan kendali terhadap kekuatan ekonomi, tersungkur menjadi minoritas dari sisi ekonomi.

Tercampak dari kepemilikan modal sehingga di ranah politik yang berbasis pasar politik oligopoli, umat Islam dalam posisi kalah, mudah dipecah belah, mudah dikendalikan kekuatan modal. Bahkan, organisasi Islam sulit bersatu. Saat yang satu berjuang membangkitkan muruah umat dan melawan stigma terorisme terhadap umat Islam, misalnya, ormas yang lain sibuk 'bancakan' dana proyek deradikalisasi.

Ketika sebagian umat membangun kesadaran toleransi autentik, sebagian kelompok justru menjadikan toleransi sebagai wacana perburuan rente yang penuh upaya stigmatisasi dan politisasi bahwa umat Islam Indonesia antitoleransi. Fakta tersebut terjadi karena kekuatan 'uangisme'. Mereka rakus sehingga abai dengan kehormatan diri dan makna 'ruhul ikhlas' dan 'ruhul jihad' dalam berislam. Mereka berlutut di hadapan pemilik modal.

Kasus Sari Roti, bagi saya menitipkan pesan penting, kapitalisme melalui korporasi besar sebagai instrumen utamanya, tidak mungkin dikalahkan dengan cara membangun korporasi baru yang memiliki kekuatan permodalan terbatas. Apalagi, korporasi baru itu miskin dukungan politik, sudah dipastikan tidak akan mampu bersaing dengan korporasi lama dan memiliki dukungan politik penguasa.

Dalam sejarah, kapitalisme adalah satu-satunya sistem ekonomi yang mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan. Sosialisme atau sistem ekonomi mana saja selalu gagal mengalahkan kapitalisme. Namun, peristiwa Sari Roti memberikan pesan penting, kapitalisme melalui korporasi besar hanya bisa dikalahkan oleh dirinya sendiri. Nyawa kapitalisme adalah pasar. Bila ingin mengalahkan kapitalisme, taklukkan dan kendalikan pasar.

Di pasar, raja yang menentukan adalah konsumen. Bila konsumen senang dengan komoditas dan produk yang ditawarkan  korporasi tersebut, korporasi berjaya. Sebaliknya, korporasi ambruk ketika 'raja' tidak berkenan.

Sari Roti telah merasakan fakta itu. Ketika konsumen merespons sikap yang tidak kompatibel dengan suasana kebatinan publik, korporasi pun roboh. Tengok, setelah peristiwa boikot Sari Roti, tumbuh upaya berjamaah untuk membuat pabrik roti sendiri. Jamaah Muhammadiyah di Surabaya memproduksi roti dengan merek dagang Maida. Semangat membangun ekonomi umat pun digeliatkan di berbagai daerah. Dimulai usaha-usaha start up, seperti Swalayan 212, Koperasi 212, dan lain sebagainya.

Bila ini didorong lebih masif dengan merawat semangat ukhuwah 212, akan menjadi gerakan konsumen yang mampu mendorong perubahan signifikan bagi ekonomi umat Islam di Indonesia. Gerakan Konsumen 212, bisa menjadi jalan baru, model gerakan membangun ekonomi umat yang  berdaulat. Organisasi, seperti Muhammadiyah, Persatuan Islam, Al Wasliyah, Mathaul Anwar, Hidayatullah, NU, dan lain sebagainya, bisa menjadi motornya.

Pengusaha-pengusaha Muslim harus memanfaatkan momentum gerakan konsumen Muslim ini untuk ekspansi bisnis. Korporasi umat Islam juga harus meningkatkan kualitas produk dan layanannya. Bila tidak, momentum ini segera berlalu. Kelak, ekonomi yang mandiri dan kuat, mendorong umat Islam memiliki politik bermartabat. Tidak dipermainkan kekuatan modal karena sejatinya, bagi saya pertarungan di pasar politik saat ini, bukan pertarungan ideologi.

Namun, telah tergerus menjadi pertarungan kekuatan modal atau pertarungan kepentingan kekuasaan sumber-sumber strategis ekonomi. Fastabiqul khoirot.

Dahnil Anzar Simanjuntak
Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA