Saturday, 4 Sya'ban 1441 / 28 March 2020

Saturday, 4 Sya'ban 1441 / 28 March 2020

Ruhut: Saksi-Saksi JPU Makin Memperlihatkan Rekayasa

Selasa 17 Jan 2017 08:33 WIB

Rep: Eko Supriyadi/ Red: Angga Indrawan

Gubernur nonaktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok hadir dalam persidangan dugaan penistaan agama di Auditorium Kementrian Pertanian, Jakarta Selatan, Selasa (10/01).

Gubernur nonaktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok hadir dalam persidangan dugaan penistaan agama di Auditorium Kementrian Pertanian, Jakarta Selatan, Selasa (10/01).

Foto: Republika/Pool/Aditia Noviansyah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --Tim sukses Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, menyebut saksi-saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) terus mengungkapkan semakin adanya rekayasa. Dia menilai beberapa saksi bahkan punta tendensi politik karena pendukung salah satu calon gubernur.

''Makin terlihat semua rekayasa. Maaf saja, ada yang taunya pendukung nomor satu. Selain itu, dari ormas, kita tahu (mereka) tidak mau lihat Ahok, dan mereka pernah bikin gubernur tandingan,'' kata Timses Ahok, Ruhut Sitompul, saat menghadiri sidang lanjutan kasus dugaan penodaan agama, di Auditorium Kementan, Jakarta, Selasa (17/1).

Menurutnya, pihak Ahok sudah ingin membantu menegakan UU, dengan meminta penundaan sidang. Karena itu, mereka akan ingin membuktikan bahwa Ahok tidak bersalah.  Menanggapi permintaan saksi yang selalu meminta Ahok ditahan, Ruhut malah semakin melihat ada yang mencoba mengintervensi hukum. Padahal, kata dia, penegak hukum lebih paham apakah Ahok perlu ditahan atau tidak.

''Makin keliatan, bicara Polisi, Jaksa, Hakim, jangan ajari ikan berenang. Kalau sudah di ranah hukum, jangan intervensi kepolisian, pengadilan,'' jelasnya.

Menurutnya, Ahok tetap tenang dalam menghadapi sidang karena sudah pengalaman beberapa kali sidang. Selain itu, proses ini juga tidak mengganggu timnya kampanye.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA