Wednesday, 7 Syawwal 1442 / 19 May 2021

Wednesday, 7 Syawwal 1442 / 19 May 2021

Tahafut At-Tahafut Kritik atas Kritik al-Ghazaly

Ahad 08 Jan 2017 18:00 WIB

Red:

Nama Abu al-Walid Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Rusyd (Ibnu Rusyd) sangat terkenal di dunia Islam. Ia tidak saja dikenal sebagai ahli fikih (kitabnya Bidayat al-Mujtahiddan Al-Muqaddimat), Ibnu Rusyd (1126-1198) juga dikenal sebagai seorang filsuf Islam.

Salah satu karyanya yang sangat terkenal dan fenomenal dalam bidang filsafat adalah Tahafut at-Tahafut(Keruntuhan Kitab Tahafut). Kitab ini ditulisnya sebagai bantahan dan kritik atas kitab al-Ghazali (1059-1111) yang berjudul Tahafut al-Falasifah(Keruntuhan Filsafat).

Tak ada catatan persis kapan Ibnu Rusyd menulis kitab Tahafut at-Tahafut.Tetapi yang jelas, jika menilik kitabnya yang lain, seperti Fash al-Maqal fima baina al-Hikmati wa as-Syariati min al-Ittishal(Kata Pemutus tentang Pertemuan Agama dan Filsafat) dan Manahij al-Adilllah(Metode Pembuktian), kitab ini ditulis saat Ibnu Rusyd mencapai puncak kematangan rasional dan berpikir kira-kira saat berusia 50 tahun ke atas.

Indikasi kematangan ini, misalnya, terlihat tatkala Ibnu Rusyd menggunakan kata yang sama untuk nama bukunya sebagaimana al-Ghazali, yaitu tahafut,yang berarti kontradiksi atau keruntuhan.

Ibnu Rusyd tidak secara gamblang menyebutkan kontradiksi siapakah yang dimaksud, tetapi cukup disebutkan dengan 'Tahafut at-Tahafut', bukan 'Tahafut al-Ghazali'. Sebab, tidak semua asumsi al-Ghazali dibantah oleh Ibnu Rusyd.

Namun, banyak pihak meyakini bahwa karya itu dimaksudkan atas bantahannya terhadap al-Ghazali yang menyatakan tentang keruntuhan filsafat. Hal serupa juga terlihat dalam karya al-Ghazali dengan menyebut karyanya Tahafut al-Falasifah.Penamaan tersebut dimaksudkan al-Ghazali untuk menyerang keprofanan pemikiran para filsuf, terutama dalam beberapa persoalan filsafat ketuhanan dan kosmologi.

Al-Ghazali tidak menyerang keseluruhan pemikiran filsafat. Namun, ia menganggap ada sesuatu yang salah dengan pemikiran filsafat yang dikemukakan banyak orang pada saat itu.

Tentu saja, tidak tepat memosisikan al-Ghazali antipati terhadap filsafat secara total, begitu pula mengklaim bahwa Ibnu Rusyd mengkritik keseluruhan bantahan al-Ghazali atas filsafat.

Sebab, sebagaimana dijelaskan oleh Sulaiman Dunya dalam pengantar atas terjemahan kitab Tahafut al-Falasifah(Kerancuan Para Filosof), kitab Al-Ghazali ini ditulisnya ketika ia dalam fase skeptis ringan (asy-Syakk al-khafif),yakni ketika ia belum mendapatkan petunjuk pada hakikat kebenaran sejati.

Hal ini diungkapkan sendiri oleh al-Ghazali dalam mukadimah kitab tersebut dengan berkata, Kami tidak menetapkan dalam buku ini, kecuali mendustakan mazhab mereka (para filsuf). Sedangkan, untuk mengafirmasi mazhab yang benar, kami akan menyusun sebuah buku yang kami beri judul Qawa'id al-'Aqa'id.Dengan buku tersebut, kami bermaksud melakukan afirmasi sebagaimana kami bermaksud melakukan dekonstruksi dengan buku Tahafut.

Jadi, kata Sulaiman Dunya, kitab Tahafut al-FalasifahAl-Ghazali tidak bisa dijadikan sasaran untuk membantah atau menyerang Ibnu Rusyd, melainkan para ahli filsafat. Dalam karya itu, Al-Ghazali justru menyerang pandangan para filsuf barat yang keliru dalam memahami keazalian Allah, ujarnya.

Sementara itu, Ibnu Rusyd dalam karyanya ini mengungkap faktor yang menjadi pemicu kritik Al-Ghazali atas filsafat adalah Ibnu Sina yang tidak menjabarkan secara komprehensif, terutama tentang filsafat ketuhanan dan kosmologi. Sehingga, pada dasarnya kitab ini pun selain ditujukan sebagai sanggahan Tahafut al-Falasifah, secara tak langsung juga membantah pemikiran Ibnu Sina.

Jika ditelusuri lebih jauh, terdapat perbedaan antara Ibnu Rusyd, Al-Farabi, dan Ibnu Sina pada pengaruh ide-ide Neo-Platonisme. Ia lebih sedikit dipengaruhi oleh ide Neo-Platonisme. Ia menolak ide penciptaan dari tiada dan menetapkan keabadian materi.

Kekufuran

Dalam kitab ini, Ibnu Rusyd menyanggah asumsi al-Ghazali. Dalam simpulannya, al-Ghazali menetapkan 20 persoalan. Tujuh belas masalah di antaranya oleh al-Ghazali dikategorikan bid'ah.

Di akhir bukunya, ada tiga perkara yang disimpulkan al-Ghazali akan menyebabkan kepada kekufuran. Ketiga hal tersebut yaitu pendapat filsuf bahwa alam itu azali atau kadim (eternal in the past),pendapat filsuf bahwa Tuhan tidak mengetahui hal-hal partikular (juz'iyyat),dan terakhir adalah paham filsuf yang mengingkari adanya kebangkitan tubuh di hari akhirat.

Menariknya, ketajaman berpikir Ibnu Rusyd dengan menggunakan akal rasional dapat diselaraskan dengan penafsiran agama secara rasional. Sekalipun, interpretasi yang dihasilkan tetap sejalan dengan sumber agama, yaitu Alquran dan sunah.  Bahkan, Ibnu Rusyd tak segan bersimpulan dalam kajiannya dan menegaskan bahwa para filsuf lah yang mampu menguak rahasia Alquran dan mentakwilkannya.

Ibnu Rusyd berusaha melakukan klarifikasi atas persepsi al-Ghazali. Pembelaan terhadap para filsuf dilakukan dengan mengklarifikasi keberadaan filsafat dan merumuskan harmonisasinya dengan agama.

Menurut Ibnu Rusyd, syariat merupakan jalan hidup yang benar, maka tentu menyeru mempelajari sesuatu yang benar pula. Tidak terdapat pertentangan antara syariat dan filsafat. Bahkan, agama menyerukan umat manusia untuk berpikir dan berfilsafat. Karena sejatinya kebenaran tidak akan berlawanan dengan kebenaran yang lain.

Sebaliknya akan semakin menguatkan, dan jika sesuai, itu tidak ada persoalan. Tetapi, jika berselisih, harus dilakukan takwil (interpretasi) sehingga bisa sesuai dengan pendapat akal. Terdapat beberapa ayat yang menyerukan penggunaan akal untuk memaksimalkan peran akal, di antaranya QS al-Hasyr: 2, QS al-A'raf [7]: 185, QS al-An'am [6]: 75, QS al-Ghasiyah: 17, dan QS Ali-Imran [3]: 191.

BOKS

Polemik Eksistensi Alam dan Tuhan

Oleh Nashih Nashrullah  

Analisis yang disampaikan Ibnu Rusyd mengisyaratkan bahwa inti perbedaan atau kritik atas filsafat terjadi karena perbedaan interpretasi dan sudut pandang. Terutama mengenai tiga pokok utama yang dipersoalkan al-Ghazali dan bisa menyebabkan kafir.

Terkait dengan alam adalah eksistensi yang kadim dan azali, misalnya. Ibnu Rusyd berpandangan, perbedaan hanya bersifat tekstual dan tidak menyentuh subtansi khilaf lafdhi.

Bagi Ibnu Rusyd, sejumlah analisis tentang eksistensi alam tidak bertentangan dengan Alquran. Interpretasi yang ada tidak menafikan tentang Allah sebagai pencipta alam.

Ada tiga kategori wujud atau eksistensi yang masyhur dipahami, yaitu eksistensi yang muncul akibat pengaruh dan diwujudkan oleh faktor eksternal. Sifatnya pun tak berdiri sendiri karena terdiri dari bahan tertentu dan didahului oleh dimensi waktu.

Termasuk kategori ini antara lain air, tanah, dan benda-benda alam lainnya. Sedangkan, kategori eksistensi kedua adalah negasi dari poin pertama. Artinya, keberadaan eksistensi ini tak didahului oleh dimensi waktu ataupun timbul karena pengaruh faktor eksternal. Tetapi, eksistensi ini ada sejak dahulu, atau sering disebut dengan wujud al-kadim. Kedua kategori ini hampir tak dipersoalkan di kalangan filsuf dan para ahli kalam mutakallimin.

Lantas di manakah sisi perbedaannya? Yang jadi perdebatan adalah eksistensi ketiga, yaitu eksistensi yang tidak berasal dari sesuatu dan tidak didahului oleh dimensi waktu, akan tetapi keberadannya dimunculkan oleh Zat Yang Maha Dahulu, Sang Khaliq. Dalam konteks ini, yang dimaksud adalah keberadaan alam semesta.

Menurut Plato, waktu dan eksistensi yang lalu bersifat terbatas. Artinya, keberadaan alam tidak sama dengan sifat dahulu yang dimiliki Zat Kadim. Itu berbeda dengan pandangan Aristoteles yang menganggap waktu dan eksistensi Kadim tersebut tidak terbatas, hampir sama dengan eksistensi baru wujud muhdats.

Artinya, ditegaskan oleh Ibnu Rusyd, sifat dahulu yang dimiliki oleh alam tidak sama dengan sifat Kadim yang dimiliki Allah. Sebab, mustahil penciptaan dilakukan dari titik nihil ('adam).Karenanya, alam juga bersifat dahulu, sekalipun memang tak sejajar dengan Kadim-nya Allah.

Argumentasi ini diperkuat dengan nukilan ayat Alquran. Ibnu Rusyd menyebutkan di antaranya QS Huud [11]: 7 dan QS Ibrahim [14]: 48. Dengan demikian, gagasan tentang alam bersifat dahulu (permulaan), tidak berseberangan dengan Alquran.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 

BERITA TERKAIT

 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA