Monday, 13 Sya'ban 1441 / 06 April 2020

Monday, 13 Sya'ban 1441 / 06 April 2020

Fenomena Sumur

Jumat 30 Dec 2016 16:05 WIB

Red: Agung Sasongko

Sumur Nabi Yusuf (Ilustrasi)

Sumur Nabi Yusuf (Ilustrasi)

Oleh: Karman

 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kebanyakan orang mungkin pernah tahu atau setidaknya mendengar kata sumur. Jika kita rajin memerhatikan fenomena sumur secara seksama maka akan ditemukan hal menarik yang membalikan logika materialistik. Logika materialistik menyatakan bahwa sesuatu yang dibagikan atau diambil jumlahnya akan berkurang dan menyusut.

Namun, fenomena sumur berbicara lain. Semakin sering diambil airnya maka sebuah sumur akan kian bertambah dan bersih airnya. Contoh yang paling mencolok terjadi pada sumur zamzam. Sumur ini  umurnya sudah ribuan tahun, airnya diambil tidak henti-henti, bahkan sekarang diekspor ke mancanegara. Bukannya habis, air zamzam malah semakin banyak, bergizi, dan berenergi.

Fenomena yang sama terjadi juga pada sumur-sumur yang berada di kampung kita. Pada musim kemarau, sumur yang digunakan oleh orang sekampung airnya sering terlihat semakin banyak dan jernih. Sedangkan, sumur yang airnya diambil oleh beberapa orang biasanya airnya menyusut bahkan kering. Memang terlihat aneh, tapi itulah faktanya.

Fenomena sumur di atas sejalan dengan prinsip berbagi dalan ajaran Islam. Menurut Islam, harta seseorang tidak akan berkurang karena berbagi. Malah secara kualitas akan semakin bertambah. Ada tiga istilah pokok dalam Alquran yang merujuk pada berbagi, yakni infak, zakat, dan sedakah.

Infak berasal dari kata nafaqa yang berarti keluar. Berinfak berarti mengeluarkan sesuatu (harta) baik di jalan kebaikan (QS Ali Imran [5]: 134) maupun jalan keburukan (QS al-Anfal: 36).

Allah SWT menjanjikan balasan yang berlipat ganda bagi orang yang berinfak di jalan kebaikan sebagaimana firman-Nya, "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah. Adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji, Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS al-Baqarah [2]: 261).

Zakat secara bahasa berarti bersih dan tumbuh. Ketika kita berzakat pada hakikatnya sedang membersihkan harta dari hak orang lain. Dan di atas harta yang bersih akan tumbuh berbagai macam kebaikan. Salah satunya adalah ketenangan jiwa sebagaimana dijelaskan oleh firman Allah SWT, "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS at-Taubah: 103).

Sedangkan sedekah berasal dari kata shidq yang berarti jujur  dan benar. Ketika seseorang bersedekah pada hakikatnya ia sedang membuktikan kebenaran imannya.

Sedekah juga seakar dengan kata shadieq yang berarti kawan atau teman. Jadi, sedekah berarti setiap pemberian yang melahirkan persaudaraan dalam bentuk kedekatan jiwa dan raga antara pemberi dan yang diberi. Oleh karena itu, sedekah tidak hanya sebatas berbagi harta, tetapi juga dapat berbagi kebaikan lainnya, seperti berbagi senyum, berbagi maaf, atau menyingkirkan duri dari jalanan.

Mengenai tidak akan berkurangnya harta karena sedekah ditegaskan oleh sabda Nabi SAW, "Tidak akan berkurang harta yang disedekahkan kecuali bertambah... bertambah... bertambah." ( HR at-Tirmidzi). "Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba sifat pemaaf melainkan akan semakin memuliakan dirinya. Dan juga tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu (rendah hati) karena Allah melainkan Allah akan meninggikannya." (HR Muslim). Wallahu a'lam.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA