Saturday, 28 Jumadil Akhir 1441 / 22 February 2020

Saturday, 28 Jumadil Akhir 1441 / 22 February 2020

Kapolri Jelaskan Cara Kerja Terorisme di Dunia Maya

Kamis 22 Dec 2016 07:21 WIB

Red: Esthi Maharani

Tito Karnavian

Tito Karnavian

Foto: Republika/Maman Sudiaman

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Kepolisian RI (Kapolri) Tito Karnavian mengatakan salah satu upaya melawan terorisme adalah lewat pendekatan siber. Perlawanan tersebut berupa patroli siber dan serangan siber pada hubungan komunikasi dan jaringan terorisme.

"Kita harus menggunakan kemampuan cyber counter terrorisme juga. Jadi melakukan cyber patrol (patroli dunia maya), cyber attack (serangan siber) kepada mereka, termasuk cyber surveillance (pengawasan siber) kepada mereka," kata Tito, Rabu (21/12) malam.

Patroli siber tersebut dilakukan oleh tim pasukan siber yaitu dengan memantau aktivitas atau pergerakan jaringan terorisme lewat dunia maya. "Ada tim cyber army, cyber troops (pasukan siber), mereka tiap hari kerjanya hanya membaca website," tuturnya.

Dalam memantau laman website, tim tersebut melakukan pelacakan terhadap situs yang menjadi komunikasi para teroris di dunia maya. "Kemudian ketangkap satu nanti ada chatting room-nya, mereka kemudian chatting room-nya diikuti ikut masuk dalam gabung dengan mereka itu di antaranya," tuturnya.

Pelacakan itu tersebut juga dapat dilakukan terhadap alat pengiriman pesan seperti whatsapp dan instagram.

"Kan teknik-teknik cyber patrol ini juga sama sebenarnya dengan teknik-teknik dalam dunia nyata ada yang menggunakan surveillance (pengawasan) nyata gitu ya diikuti ada juga kita," ujarnya.

Setelah masuk dalam obrolan komunikasi jaringan teroris itu, Tito mengatakan, pihak kepolisian melakukan penyamaran untuk masuk seolah-seolah menjadi bagian kelompok-kelompok teroris dengan menggunakan berbagai akun termasuk ikut chatting dalam komunitas mereka.

Kapolri mengatakan pemerintah mewaspadai adanya perekrutan teroris melalui media sosial. "Memang adanya rekruitmen lewat media sosial namanya cyber terorism. Jadi bergerak di dunia maya. Jadi istilah mereka cyber jihad," tuturnya.

Kapolri menuturkan terorisme yang bergerak di dunia maya itu, melakukan rekruitmen dan pelatihan melalui dunia maya. "Jadi cyber recruitment (rekrutmen lewat dunia maya, cyber training (pelatihan lewat dunia maya), jadi latihannya tidak melalui fisik tapi hanya online (dalam jaringan)," tuturnya.

Para teroris mempelajari cara membuat bom lewat dunia maya. Mereka juga membuat cyber operation (operasi lewat dunia maya), yakni mensurvei target dan melakukan pendanaan terorisme dalam jaringan.

"Mereka menggunakan bit coin, yang dipakai di dunia maya," tuturnya.

Ancaman terorisme yang dihadapi adalah jaringan teroris. Pihak kepolisian telah menjajaki dari dulu jaringan kelompok teroris hingga sel-sel terkecil.

"Sebagian besar terdeteksi tapi mereka juga sebagian besar berusaha menghindari deteksi intelijen dengan menggunakan metode-metode termasuk sistem komunikasi mereka," ujarnya.

sumber : antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA