Friday, 4 Rajab 1441 / 28 February 2020

Friday, 4 Rajab 1441 / 28 February 2020

Buruh tak Percaya Rachmawati dkk akan Makar

Senin 19 Dec 2016 16:17 WIB

Rep: Muhyiddin/ Red: Ilham

Politisi Rachmawati Soekarnoputri meninggalkan gedung Mako Brimob Kelapa Dua usai menjalani pemeriksaan terkait kasus dugaan makar di Depok, Jawa Barat, Jumat (2/12).

Politisi Rachmawati Soekarnoputri meninggalkan gedung Mako Brimob Kelapa Dua usai menjalani pemeriksaan terkait kasus dugaan makar di Depok, Jawa Barat, Jumat (2/12).

Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal tak mempercayai delapan orang yang sudah ditetapkan sebagai tersangka mempunyai niatan untuk melakukan makar. Pasalnya, delapan orang tersebut tidak mempunyai kemampuan untuk melakukannya.

"Kita enggak percaya ada makar, karena yang diduga sebagai tersangka ini tidak punya kemampuan untuk melakukan makar," ujar Said saat mendampingi sekjennya, Muhammad Rusdi yang diperiksa terkait kasus makar di Mapolda Metro Jaya, Selasa (19/12).

Untuk diketahui, Said sebelumnya juga telah dipanggil oleh penyidik Polda Metro Jaya terkait kasus makar. Ia mengaku diperiksa sebagai saksi dari tersangka aktivis Ratna Sarumpaet dan Rachmawati. "Saya kemarin juga diperiksa sebagai saksi dari Ratna dan Rachmawati," ucapnya.

Ia pun tak percaya jika Ratna Sarumpaet akan melakukan makar. Ia pun membantah jika pernah melakukan pertemuan khusus dengan Ratna, apalagi berhubungan dengan makar. Ia menegaskan, buruh tidak ada kaitannya dengan makar-makaran. "Buruh tidak pernah ikut," tegasnya.

Ia menduga, KSPI turut dipanggil lantaran penyidik menduga pada saat aksi 212 tersebut diduga buruh akan diajak untuk menggeruduk gedung DPR RI. "Ada dugaan oleh tersangka diajak ke DPR, itu dari penyidik. Tersangka yang diduga ini ada dugaan mau ngajak ke DPR," kata Said.



BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA