Senin, 30 Jumadil Akhir 1441 / 24 Februari 2020

Senin, 30 Jumadil Akhir 1441 / 24 Februari 2020

Studi: Lemak Bahan Bakar untuk Sebarkan Sel Kanker

Rabu 14 Des 2016 16:16 WIB

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Winda Destiana Putri

Sel kanker

Sel kanker

Foto: pixabay
<p>REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Para ilmuwan telah menemukan bahwa sel-sel kanker memerlukan bahan bakar untuk memperluas pertumbuhan mereka. Bahan bakar penyebar sel kanker tersebut adalah lemak.

Dengan menghentikan sel-sel ini dari penyerapan lemak terbukti dapat menghentikan penyebaran kanker. Untuk tahap awal penelitian ini diuji coba menggunakan tikus. Para peneliti berharap hal serupa juga berhasil dilakukan pada manusia.

Di masa lalu, banyak yang mengasumsikan bahwa gula merupakan sumber bahan bakar utama penyebaran kanker. Namun, penelitian terbaru ini telah mematahkan asumsi tersebut.

Tim peneliti mengidentifikasi sel-sel yang bertanggung jawab untuk penyebaran kanker mulut pada tikus. Mereka menemukan bahwa penyebaran sel kanker bergantung pada asam lemak termasuk asam palmitat yaitu komponen utama yang terkandung di dalam minyak sawit.

Hal ini diketahui setelah tingkat protein reseptor atau CD36 pada sel metastatik menunjukkan angka yang tinggi sehingga dapat membantu sel dalam menyerap lemak. Ekspresi tinggi CD36 juga menunjukkan hasil medis yang buruk pada pasien kanker.

Ketika para peneliti memblokir CD36 dari lemak, penyebaran sel kanker terhenti sama sekali pada tikus seklaigus dapat mengehentikan pembentukan tumor primer. "Kami berhipotesis bahwa sel-sel metastatik begitu mengandalkan ketersediaan asam lemak tertentu, dan mereka tidak dapat menyebar tanpa asam lemak," kata ketua peneliti Salvador Aznar Benitah.

Namun, ia belum mengetahui secara pasti mekanisme apa yang menyebabkan pemblokiran CD36 dapat berdampak kuat pada metastasis. Pada tikus, pemblokiran CD36 dapat menyebabkan penyusutan tumor hingga 80 persen.

Saat ini, tim peneliti sedang berupaya menciptakan antibodi yang dapat melawan CD36 pada manusia. Mereka berharap dapat segera melakukan uji klinis dalam lima tahun ke depan, dilansir laman Sciencealert.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA