Thursday, 15 Jumadil Akhir 1442 / 28 January 2021

Thursday, 15 Jumadil Akhir 1442 / 28 January 2021

Sesar Lembang Bergerak 3-6 Mm per Tahun, Ini Bencana yang Mengintai

Rabu 14 Dec 2016 06:26 WIB

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Angga Indrawan

Permukiman di kawasan Bandung Raya, Jawa Barat.

Permukiman di kawasan Bandung Raya, Jawa Barat.

Foto: Republika/Edi Yusuf

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Masyarakat di kawasan Bandung Raya, kembali diingatkan akan potensi gempa yang dipicu pergerakan patahan (sesar) Lembang. Berdasarkan hasil penelitian, sesar Lembang adalah sesar yang aktif. Bahkan, retakan sepanjang 22 km dari kaki Gunung Manglayang hingga ke Padalarang.

"Kalau sesar Lembang ini bergerak, diprediksi bisa mengakibatkan goncangan dengan kekuatan besar," ujar Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Eko Yulianto, usai menghadiri diskusi bertemakan Antisipasi Patahan Lembang, di kantor LIPI, Selasa (13/12).

Menurut Eko, berdasarkan berbagai metode penelitian seperti geologi, geofisika, geodesi, dan antropologi, sesar tersebut dinyatakan masih aktif. Yakni, berdasarkan pendekatan geofisika, sejak 2009-2012 tercatat 10 kali gempa meski berkekuatan dibawah 3 SR.

Begitu juga, kata dia,  dengan pendekatan geodesi melalui penggunaan GPS yang ditanam, pergerakan sesar terpantau sekitar 3-6 mm per tahunnya. Berdasarkan pengamatannya, gempa dahsyat akibat sesar Lembang ini terjadi pada tahun 60 SM dan 1.500 M. Saat itu, gempa memiliki daya rusak sebesar 6,8 SR.

"Setelahnya itu ada gempa lagi, pastinya kapan, kita tidak punya dokumentasinya," katanya

Eko mengatakan, dalam diskusi yang dihadiri juga unsur pemerintahan, TNI/Polri, dan pemerhati lingkungan, ia mengingatkan, gempa akibat pergerakan sesar Lembang ini bisa membahayakan seluruh wilayah di Bandung. Terutama, yang berada di atas garis sesar tersebut. "Seluruh cekungan Bandung akan kena. Karena jarak sesar Lembang ke Bandung paling 10 Km," katanya.

Terlebih, menurut Eko, kondisi tanah di cekungan Bandung ini tergolong lunak sehingga setiap goncangan akibat gempa akan semakin terasa. "Sedimen lunak ini juga yang menyebabkan gempa di Tasikmalaya sangat terasa di Bandung," katanya.

Eko pun menyayangkan, keberadaan sesar Lembang ini tidak diperhatikan oleh masyarakat luas. Karena, pada umumnya, rumah maupun bangunan lainnya yang didirikan tidak memiliki konstruksi yang kuat. Sehingga, rawan roboh jika terguncang gempa. Seharusnya, bangunan-bangunan di cekungan Bandung yang rawan gempa ini mengadopsi teknik ramah gempa sehingga tahan terhadap goncangan.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA