Wednesday, 19 Muharram 1444 / 17 August 2022

Petualangan Ibnu Battuta Jadi Sorotan Barat

Selasa 06 Dec 2016 04:43 WIB

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Agung Sasongko

Perjalanan Ibnu Batuta, Ilustrasi

Perjalanan Ibnu Batuta, Ilustrasi

Foto: ytimg.com

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  David Waines dalam the Odyssey of Ibn Battuta Uncommon Tales of a Medieval Adventurer (2010) menjelaskan, di Eropa, karya-karya Ibnu Battuta mulai mendapatkan sorotan dimulai ketika dua pengelana Eropa ke dunia Arab, Ulrich Jasper Seetzen (1767-1811) dan Johan Ludwig Burckhardt (1784-1817). Dalam perjalanannya, keduanya kerap membeli beragam manuskrip dari Timur Tengah.

(Baca: Awal Mula Perjalanan Ibnu Batuta Dibukukan)

Kemudian, beberapa sarjana Eropa menerjemahkan manuskrip-manuskrip. Samuel Lee menerbitkan buku Perjalanan Ibnu Battuta, yang merupakan hasil terjemahan dari edisi mansukrip Arab di London pada 1829. Karya ini mendapatkan sambutan luas dari publik Eropa, khususnya digemari di kalangan terpelajar. Baru ketika Aljazair dikuasai Prancis pada 1830, beberapa manuskrip Ibnu Battuta dibawa ke Paris. Di sana, manuskrip ini disimpan di Perpustakaan Bibliothèque Royale untuk kemudian dipelajari.

Ada dua sarjana pakar Arab yang berjasa dalam mempelajari manuskrip Ibnu Battuta, yakni C Defremery dan BR Sanguinetti. Dari lima manuskrip, mereka sukses menyelesaikan penerjemahan dua manuskrip. Ada dua bagian yang dihasilkan, pertama dalam konteks geografi.

Yakni, menjelaskan perjalanan Ibnu Battuta dari Maroko hingga ke lembah Sungai Indus. Di antaranya, Ibnu Battuta melewati Mesir, berkali-kali ibadah haji ke Makkah, kemudian ke Suriah, Irak, Afrika Timur, Turki, Iran, dan Afghanistan.

Adapun bagian keduanya mengungkapkan catatan perjalanan Ibnu Battuta selama di India, kemudian beranjak ke Kepulauan Maladewa, Sri Lanka, Bangladesh, Indonesia, hinga Cina. Lalu, Ibnu Battuta menyusuri rute kepulangan. Tetapi, sempat mengunjungi Andalusia dan Kerajaan Mali di Afrika Barat.

Sebagai informasi, manuskrip yang paling lengkap dan akurat-yang dikerjakan dua sarjana Eropa itubertanggal 1180 Hijriyah atau 1776 Masehi.

Inilah yang menjadi rujukan utama bagi buku tentang Ibnu Battuta di Eropa. Manuskrip yang berusia paling tua mengandung hanya bagian kedua dari perjalanan Ibnu Battuta. Manuskrip ini bertahun 757 Hijriyah atau 1356 Masehi.

Edisi lengkap terjemahan ke bahasa Prancis oleh Defremery-Sanguinetti pertama kali terbit dalam empat jilid, yakni sejak 1853-1858. Satu abad kemudian, orientalis Inggris, HAR Gibb, menerbitkan terjemahan bahasa Inggris atas karya itu pada 1953.

Ia hanya mampu menyelesaikan penerjemahan dua jilid, sebelum Gibb meninggal dunia. Adapun edisi keempatnya dikerjakan CF Beckingham, yang terbit pada 2000. Kini, karya-karya Ibnu Battuta telah diterjemahkan ke belasan bahasa dunia.

Sejumlah komentator dan kritikus Rihlah terlibat perdebatan mengenai ihwal otentisitas perjalanan. Rihlah dinilai berisi perspektif Ibnu Battuta mengenai tanah airnya, Maroko, dan rasa kebangsaannya yang lebih luas daripada tanah airnya itu, yakni sebagai satu komunitas umat Islam.

Hal ini kian terasa begitu perjalanan Ibnu Battuta semakin ke timur. Sang pengelana semakin terhubung dengan gagasan mengenai umat Islam sebagai keseluruhan, tetapi di saat yang sama (Ibnu Battuta) belajar karakteristik rakyat dan budayanya sendiri, kata Abderrahmane El Moudden. ed: nashih nashrullah

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 

BERITA TERKAIT

 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA