Sunday, 12 Sya'ban 1441 / 05 April 2020

Sunday, 12 Sya'ban 1441 / 05 April 2020

Trump Menang, Snowden Sebut Aktivitas Intelijen Meningkat

Selasa 15 Nov 2016 17:14 WIB

Red: Ani Nursalikah

Edward Snowden

Edward Snowden

Foto: Reuters/Dado Ruvic

REPUBLIKA.CO.ID, BUENOS AIRES -- Keterpilihan Donald Trump menjadi presiden Amerika Serikat menimbulkan kekhawatiran AS meningkatkan campur tangan dalam pengumpulan data intelijen dalam negeri, kata mantan kontraktor badan intelijen AS Edward Snowden, Senin (14/11).

Snowden juga memperingatkan pengawasan demokratis kehilangan landasannya dan menjadi otoritarianisme. Snowden saat ini tinggal di Moskow dalam kesepakatan suaka setelah ia membocorkan informasi rahasia, yang memicu kemarahan internasional atas jangkauan operasi intelijen AS pada 2013. Snowden berbicara melalui pembicaraan jarak jauh, yang diselenggarakan sekolah hukum Universitas Buenos Aires.

"Kami mulai menggantikan pemerintahan yang terbuka untuk otoritarianisme belaka, pemerintah tidak berdasarkan atas prinsip persetujuan, yang diberikan orang yang memahami kegiatannya melainkan kepercayaan pribadi, kepercayaan klaim dan kepercayaan dengan harapan bahwa mereka akan melakukan hal benar," kata Snowden.

AS berjanji tidak terlibat dalam spionase pada siapa pun, mengikuti pengungkapan Snowden pada 2013. Tapi Snowden mempertanyakan apakah kebijakan itu dapat dimodifikasi oleh pejabat baru yang memiliki berbagai penilaian yang sangat berbeda dan dapat menyetir dalam gelap.

"Jika pemerintah benar-benar memenangkan kepercayaan kami, karena mereka telah beberapa tahun beroperasi dalam cara yang membuat kita pantas mendukungnya, apa yang terjadi ketika hal itu berubah? Ini jenis tantangan yang kita hadapi saat ini di Amerika Serikat dengan hasil pemilu terakhir," katanya mempertanyakan.

Pendukungnya melihat Snowden sebagai "pengungkap pelanggaran" yang secara berani mengungkap tindakan berlebih pemerintah AS. Namun pemerintah AS telah mengajukan tuduhan spionase terhadap dirinya karena membocorkan informasi intelijen.

Trump, yang mendapatkan kemenangan mengejutkan atas kandidat Partai Demokrat Hillary Clinton dalam pemilihan Selasa lalu, pecah dengan banyak tokoh di Partai Republik sendiri selama kampanye dan menekankan kesuksesannya dikarenakan dirinya yang merupakan pengusaha dan bintang acara TV.

Dia juga menjanjikan langkah-langkah keamanan dengan "pembersihan" untuk menghadapi berbagai ancaman serangan terhadap Amerika Serikat. Keterpilihan Trump disambut kekhawatiran oleh Persatuan Kebebasan Masyarakat Amerika atas pernyataannya yang dibuat selama kampanye, dengan mendukung peningkatan pengawasan dari Muslim AS, deportasi besar-besaran imigran ilegal, pengaturan kembali penggunaan teknik interogasi waterboarding dan mengubah undang-undang pencemaran nama baik untuk meningkatkan pembatasan pers.

Snowden, yang ditanya apakah ia berpikir pemilihan Trump dapat meningkatkan kemungkinan dia diampuni oleh pemerintah AS atau tidak, masih belum jelas mengenai hal tersebut. "Siapa tahu?" katanya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA