Tuesday, 3 Jumadil Akhir 1441 / 28 January 2020

Tuesday, 3 Jumadil Akhir 1441 / 28 January 2020

Bisakah Ayat Alquran Dipakai untuk Berbohong?

Jumat 11 Nov 2016 08:01 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Wartawan Republika, Ahmad Syalaby

Wartawan Republika, Ahmad Syalaby

Foto:

Dokter Ibrahim B Syed dari Universitas Loisville, Kentucky, Amerika Serikat, mengungkapkan, ‘alaqah dalam bahasa Arab memiliki dua pengertian. Pertama, sesuatu yang menempel dan menyangkut pada sesuatu yang lain. Kedua, alaqah berarti lintah. Dibuktikan dalam dunia medis, penempelan menggambarkan tentang terjadinya penyangkutan, kemudian menempel lantas tertanamnya blastosis (embrio setelah lima hari pascapembuahan) ke lapisan batas dinding rahim (endometrium).
Embrio tersebut melekat di dinding endometrium dari uterus, dengan cara persis seekor lintah saat menempel di kulit manusia. Bagaimana Alquran bisa secara presisi menggambarkan proses alaqah yang bisa terbukti dalam ilmu pengetahuan modern saat ini? Maka itu, ayat Alquran sudah pasti benar seperti dijamin Allah SWT dalam QS Al Hijr ayat 9. “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Alquran dan kami yang memeliharanya.”
Tak hanya itu, orisinalitas ayat-ayat Alquran bahkan terjaga hingga kini.  Kita bisa uji mushaf tertua dengan usia 1.370 tahun yang ditemukan di Universitas Birmingham pada 2015. Isinya sama dengan mushaf saat ini. Hal ini dikatakan sendiri Profesor Universitas Birmingham yang ahli dalam Kristen dan Islam David Thomas.

Dengan kebenaran dan keaslian tersebut, tidak bisa seseorang memakai ayat Alquran untuk berbohong. Saat mengutip ayat Alquran, orang pasti mengatakan sebenarnya sebagaimana yang ada dalam teks Alquran. Kembali pada contoh di atas, saat seseorang menyatakan ada ayat yang menyuruh kaum Muslimin memerangi semua orang musyrik dalam surah At Taubah, maka dia tidak sedang berbohong. Karena memang ada teks yang menjelaskan hal tersebut.

Namun, dia sedang menyalahgunakan (Salah guna dalam KBBI berarti melakukan sesuatu tidak sebagaimana mestinya. Padanannya menyelewengkan) ayat-ayat Alquran dengan memotongnya tanpa menjelaskan keterkaitan ayat tersebut dengan ayat lainnya. 

Begitupula orientalis yang mengatakan bahwa ada ayat empat surah Al Maun yang mengancam orang-orang shalat. Dia tidak juga sedang berbohong karena memang ada ayat tersebut. Hanya, orientalis itu --kembali lagi-- menyalahgunakan ayat Alquran karena tidak menambahkannya dengan ayat kelima yakni orang-orang yang melalaikan shalat.

Maka, menjadi amat berbahaya saat ada orang di luar Islam yang mengatakan “Jangan mau dibohongi pakai Al Maidah 51.” Orang itu melekatkan ayat-ayat suci dengan kata bohong sehingga timbul keraguan terhadap ayat tersebut. Padahal, orang yang ‘mengingatkan’ itu memiliki akidah berbeda dengan orang Islam. Sudah pasti cara memahami dan pengetahuan orang itu pasti juga berbeda.

Kita bisa mengulang kembali analogi daging babi. Saat seorang penjual daging babi mengatakan kepada calon pembeli. “Jangan mau dibohongi pakai Al Maidah ayat 3.” Padahal, ayat tersebut berisi larangan kepada seorang Muslim untuk memakan babi. Si penjual daging babi itu bisa dinilai sedang mengajak untuk melanggar perintah Allah SWT yang tercantum di dalam Alquran. Wallahualam

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA