Thursday, 22 Rabiul Awwal 1443 / 28 October 2021

Thursday, 22 Rabiul Awwal 1443 / 28 October 2021

Panen Zaitun Terakhir di Cremisan Valley Tepi Barat

Senin 07 Nov 2016 01:34 WIB

Rep: Fira Nursya'bani/ Red: Budi Raharjo

Ratusan pohon zaitun milik warga Palestian ditebang paksa oleh Israel untuk memperluas proyek permukiman Yahudi

Ratusan pohon zaitun milik warga Palestian ditebang paksa oleh Israel untuk memperluas proyek permukiman Yahudi

Foto: PALESTINIAN INFORMATION CENTER

REPUBLIKA.CO.ID, BETHLEHEM -- Cremisan Valley banyak ditumbuhi tanaman-tanaman liar. Pemilik tanah mengatakan mereka kehilangan harapan untuk mengurus 300 hektare kebun zaitun di wilayah itu setelah Pemerintah Israel menyitanya pada awal tahun ini.

"Saya belum ke sana sama sekali dalam satu tahun ini. Lihatlah bagaimana gulma tumbuh banyak dan sampah di jalanan semakin menumpuk," ujar Ricardo Jaweejat, sambil menunjuk ke arah kebun zaitun milik keluarganya selama beberapa generasi.

Distrik Beit Jala di Bethlehem, Tepi Barat, Palestina, telah dikenal di seluruh dunia sebagai wilayah penghasil minyak zaitun terbaik. Sedangkan minyak dari Cremisan Valley merupakan produk terbaik di Beit Jala.

Tahun ini merupakan tahun terakhir warga Beit Jala diberi kesempatan untuk memanen buah zaitun di Cremisan Valley. Pemerintah Israel segera membangun perpanjangan tembok pemisah di wilayah itu.

Cremisan Valley secara teknis telah menjadi milik Pemerintah Israel. Tanah itu ditutup bagi warga yang biasanya bergantung pada perkebunan zaitun. Kelompok hak asasi manusia (HAM) Israel, B'Tselem, mengatakan Cremisan Valley merupakan sumber pendapatan penting bagi sejumlah warga.

"Pendahulu saya mengelola tanah ini, hingga ke kakek saya, ke ayah saya, dan saya. Saya tidak bisa membayangkan kami akan kehilangan tanah ini selamanya," ungkap Jaweejat, dikutip dari Al Jazeera.

Jaweejat adalah salah satu dari sekitar selusin keluarga yang berusaha menjaga tanah leluhur mereka. Ia menentang Pemerintah Israel melalui jalur hukum selama sembilan tahun.

Pada April tahun lalu, pengadilan tinggi Israel memutuskan untuk mendukung petisi yang digulirkan warga Beit Jala. Namun sembilan bulan kemudian, banding memutuskan Pemerintah Israel bisa membangun tembok pemisah dengan mencaplok wilayah Cremisan Valley.

Jaweejat mengatakan, ia berharap suatu hari keluarganya dapat kembali ke Cremisan. Akan tetapi dia mengaku tidak pernah mendengar ada kasus tanah sitaan yang dikembalikan pemiliknya oleh Israel. "Tentu saja kami mencoba, tapi sulit berpegang pada harapan," katanya.

Jeep Militer Israel terlihat berseliweran melewati Distrik Bait Jala. Mereka mulai berjaga-jaga di Cremisan Valley. "Kami tidak bisa menghentikan mereka. Mereka datang dan pergi melewati wilayah kami sesuka hati dan mengambil apapun yang mereka inginkan," ungkap Jaweejat, sambil menunjuk sebuah Jeep hijau besar.

Jeep melewati area A di Beit Jala yang berada di bawah pengawasan Otoritas Palestina. Namun karena pangkalan Militer Israel ada di area C, kehadiran tentara Israel di area itu telah menjadi pemandangan biasa.

Di bagian atas Beit jala terdapat pemukiman ilegal Israel bernama Gilo. Sedangkan di arah timur laut ada pemukiman Har Gilo. Cremisan Valley ada di antara dua pemukiman itu.

Meski Pemerintah Israel mengatakan pembangunan tembok di Cremisan Valley dilakukan atas dasar keamanan, tetapi warga Palestina yakin tembok itu dirancang untuk menghubungkan pemukiman ilegal Gilo dan Har Gilo.

Pada Juli lalu Pemerintah Israel menyetujui perencanaan 770 unit pemukiman baru yang akan dibangun di seberang Cremisan Valley. Pemukiman itu akan mencaplok Desa al-Walaja, Palestina, dan memperluas pemukiman Gilo.

"Pemukiman itu akan terus diperluas sampai menyatukan Gilo dan Har Gilo. Jadi tembok pembatas itu tidak ada hubungannya dengan keamanan," jelas Jaweejat.

Di dalam koperasi zaitun di Beit Jala, puluhan warga Palestina menunggu giliran menggunakan alat pemeras zaitun dalam panen tahun ini. Manajer koperasi, Ilyas Jacshan, mengatakan sedikitnya seperlima dari pelanggan datang untuk memeras zaitun dari Cremisan Valley.

"Tahun depan kita akan kehilangan semua bisnis itu. Banyak warga pemilik tanah yang ikut panen tahun ini di Cremisan, tapi tahun depan tidak akan ada lagi," kata Jacshan.

Menurut Jacshan, minyak zaitun Beit Jala dijual seharga dua kali lebih banyak dibandingkan dengan minyak zaitun dari luar kota. Sedangkan minyak Cremisan dibanderol dengan harga yang lebih tinggi lagi. "Ini minyak yang paling dicari-cari di Palestina. Kami mendengar Israel akan menebang semua pohon sebelum membangun tembok," jelasnya.

Menurutnya, sebagian orang berduka karena panen ini menjadi panen terakhir. Tanah keluarga yang dimiliki selama beberapa generasi akan diambil dari mereka.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA