Tuesday, 14 Sya'ban 1441 / 07 April 2020

Tuesday, 14 Sya'ban 1441 / 07 April 2020

Menjajaki Kehidupan Manusia Purba di Trinil

Selasa 18 Oct 2016 09:55 WIB

Red: Yudha Manggala P Putra

Museum Trinil

Museum Trinil

Foto: EastJava.com

REPUBLIKA.CO.ID,  NGAWI -- Masyarakat yang berminat menjajaki sejarah kehidupan manusia purba, datanglah ke Museum Trinil, di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Di situ wisatawan bisa mendapatkan informasi sejelas dan selengkap mungkin mengenai asal usul dan kehidupan manusia purba, yang konon merupakan nenek moyang bangsa Indonesia.

Dukuh Pilang, Desa Kawu, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, Provinsi Jawa Timur, merupakan salah satu lokasi penemuan Pithecanthropus erectus yang kerap kali ditanyakan dalam lembar-lembar ujian sejarah purbakala.

Museum ini terletak di bantaran Sungai Bengawan Solo sehingga mengingatkan para wisatawan bahwa di sekitar bantaran sungai inilah dahulu manusia purba tinggal dan membangun kebudayaannya.

Museum Trinil memang menjadi salah satu objek wisata sejarah yang penting, baik bagi wisatawan biasa maupun pelajar atau peneliti. Di situ wisatawan akan mengetahui kehidupan manusia purba, ekosistemnya, serta flora dan fauna yang hidup pada zaman tersebut.

Kawasan Trinil merupakan salah satu kawasan yang menjadi penemuan fosil-fosil dari masa pliosen, sekitar 1,5 juta tahun yang lalu, hingga zaman pleistosen berakhir, yaitu sekitar 10.000 tahun sebelum masehi.

Saat datang di halaman museum, wisatawan akan disambut oleh gapura museum dengan latar belakang patung gajah purba. Patung gajah ini cukup besar untuk ukuran gajah sekarang, dengan gading yang sangat panjang, dan anatominya lebih mirip Mammoth tetapi tanpa bulu.

Selain patung gajah, di halaman museum juga terdapat monumen penemuan Pithecanthropus erectus yang dibuat oleh Eugene Dubois, seorang dokter berkebangsaan Belanda. Pada monumen tersebut tertulis P.e. 175m (gambar anak panah), 1891/95.

Maksud dari tulisan tersebut adalah, Pithecanthropus erectus (P.e.) ditemukan sekitar 175 meter dari monumen itu, mengikuti arah tanda panah, pada ekskavasi yang dilakukan dari tahun 1891 hingga 1895.

Setelah cukup menikmati patung gajah dan monumen tersebut, wisatawan dapat menimba informasi lebih jauh dengan melihat koleksi museum yang berjumlah sekitar 1.200 fosil yang terdiri dari 130 jenis.

Museum Trinil memamerkan beberapa replika fosil manusia purba, di antaranya replika Phitecantropus Erectus yang ditemukan di Karang Tengah (Ngawi), Phitecantropus Erectus yang ditemukan di Trinil (Ngawi), serta fosil-fosil yang berasal dari Afrika dan Jerman, yakni Australopithecus Afrinacus dan Homo Neanderthalensis.

Kendati hanya berupa replika, namun fosil tersebut dibuat mendekati bentuk aslinya. Sementara fosil-fosil yang asli disimpan di beberapa museum di Belanda dan Jerman.

Selain fosil manusia, museum ini juga memamerkan fosil tulang rahang bawah macan (Felis Tigris), fosil gigi geraham atas gajah (Stegodon Trigonocephalus), fosil tanduk kerbau (Bubalus Palaeokerabau), fosil tanduk banteng (Bibos Palaeosondaicus), serta fosil gading gajah purba (Stegodon Trigonocephalus).

Fosil hewan ini umumnya lebih besar dan panjang daripada ukuran hewan sekarang. Misalnya saja fosil gading gajah purba yang panjangnya mencapai 3,15 meter, bandingkan dengan gajah sekarang yang panjang gadingnya tak lebih dari 1,5 meter.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA