Monday, 2 Rabiul Awwal 1442 / 19 October 2020

Monday, 2 Rabiul Awwal 1442 / 19 October 2020

Gaji, Pekerjaan dan Lokasi Tinggal Pengaruhi Tidur Anda

Jumat 07 Oct 2016 20:05 WIB

Red: Ani Nursalikah

Pria sedang tidur

Gangguan tidur

Foto: Republika/Wihdan Hidayat

Faktor Gender

David Hillman, seorang psikolog tidur dan ketua Sleep Health Foundation Australia mengatakan cara interaksi antara faktor seperti status sosial ekonomi, ras, gender dan kondisi kehidupan lainnya dengan tidur, merupakan wilayah yang memerlukan kajian lebih lanjut. Tapi sejumlah faktor sosial sudah sangat jelas mempengaruhi tidur seseorang. Tentu saja masalah gender, itu merupakan faktor sosial,” kata Dr Hillman.

Hillman mengatakan pria cenderung mengalami masalah seputar apnea, yaitu terganggunya pernapasan karena dinding tenggorokan menyempit, serta mengorok. Tapi perempuan lebih cenderung mengalami terbangun dari tidur dan terutama sekali imsomnia.

Hilman mengatakan salah satu alasan adalah karena wanita lebih rentan mengalami depresi, dan hal tersebut dapat mempengaruhi kualitas tidurnya. Namun faktor lainnya di balik perbedaan antara kedua gender ini amat jelas.

"Bisa jadi ini semacam respons adaptif atau perhatian khusus terhadap gangguan suasana semalaman, seperti ketika bayi berisik," kata Hillman.

"Provokasi semacam ini dapat berwujud berbeda-beda ... tapi kecenderungan terbangun dari tidur ini sedikit lebih besar terjadi pada wanita dibandingkan pria. Namun ada tumpang tindih kasus di antara kedua jenis kelamin," tambahnya.

Memiliki anak juga dapat mengubah perbedaan tidur antara laki-laki dan perempuan. Sebuah riset di Australia yang dipublikasikan tahun ini mendapati perempuan tanpa anak memiliki waktu tidur rata-rata lebih tinggi dari pria. Tapi begitu mereka menjadi ibu, pola ini berbalik, dengan perbedaan jarak untuk jam tidur rata-rata mingguan semakin meningkat di anak-anak berikutnya.

Kecemasan dan Tidur

Ketika menguraikan berbagai hasil penelitian, salah satu tantangan adalah mencari tahu sejauh mana kualitas tidur yang buruk telah mendahului kondisi kesehatan lainnya. Sudah diketahui kalau depresi dapat mengganggu tidur misalnya, tetapi apakah tidur yang buruk juga dapat meningkatkan risiko depresi.

Sejak tahun 2000 sampai 2009 Bruck dan tim peneliti yang dipimpin Melinda Jackson, peneliti senior di RMIT University, mengikuti kelompok yang terdiri dari hampir 10.000 wanita muda untuk mengeksplorasi hubungan antara kesulitan tidur dan depresi serta kecemasan.

Kajian mereka menemukan kalau wanita yang melaporkan sulit tidur di awal riset memiliki 4-5 kali risiko melaporkan depresi 9 tahun kemudian pada akhir riset ini, dibandingkan mereka yang bisa tidur dengan baik.

Dr Bruck baru-baru ini menyelesaikan studi baru bersama sejumlah peneliti di Victoria University yang meneliti kualitas hidup di kalangan komunitas Australia asal Sudan Selatan. Dia mengatakan sementara perempuan cenderung melaporkan gangguan tidur yang lebih besar dibandingkan pria, namun dalam kasus Sudan Selatan data dalam penelitian ini menunjukan kebalikannya. Bahwa kalangan pria justru yang melaporkan kualitas tidur yang buruk dengan angka yang lebih tinggi.

"Kita tidak terlalu mengetahui mengapa seperti ini tapi kami kira ada elemen stres pasca trauma dalam kasus ini dan ini memberikan mereka secara keseluruhan tingkat kecemasan yang tinggi yang kemudian mempengaruhi tidur mereka,” jelasnya

Meningkatnya Tidur yang 'Terjepit’

Sedangkan tekanan dari upaya memenuhi kebutuhan pada mereka yang berpenghasilan rendah tentu dapat menyebabkan kurang tidur. Namun yang beruntung karena memiliki pendidikan dan berpendapatan yang baik bukan berarti akan kebal dari gangguan tidur.

Hillman mengatakan dia telah mengamati tantangan yang ada di kedua ujung spektrum pendapatan.

Dengan melakukan dua shift saja atau shift malam untuk mendapatkan tambahan uang bisa mengurangi tidur Anda. Mereka yang berpenghasilan tinggi dengan pekerjaannya yang mengharuskan mereka untuk berinteraksi dengan orang-orang di zona waktu yang berbeda juga bisa menderita kekurangan waktu tidur.

Meningkatnya akses untuk mereka yang bekerja di luar jam kerja kantoran juga bisa menempatkan tekanan baru pada kualitas tidur di seluruh dunia. Orang-orang memiliki banyak hal yang harus dilakukan setiap hari dan tidurnya akan terjepit," katanya.

sumber : http://www.australiaplus.com/indonesian/gaya-hidup-nad-kesehatan/gaji-pekerjaan-dan-lokasi-tinggal-pengaruhi-tidur-anda/7911460
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA