Thursday, 18 Zulqaidah 1441 / 09 July 2020

Thursday, 18 Zulqaidah 1441 / 09 July 2020

Pola Komunikasi Keluarga Pengaruhi Kesehatan Mental Anak

Kamis 06 Oct 2016 18:24 WIB

Rep: Rizma Riyandi/ Red: Angga Indrawan

Pilih pola pengasuhan yang paling tepat untuk anak, tapi biarkan ia berkembang dengan keinginannya sendiri tanpa harus terlalu mengontrol anak.

Pilih pola pengasuhan yang paling tepat untuk anak, tapi biarkan ia berkembang dengan keinginannya sendiri tanpa harus terlalu mengontrol anak.

Foto: flickr

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Keluarga memiliki peranan penting dalam proses pembentukan kesehatan mental anak. Direktur Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi UGM, Diana Setiyawati mengatakan pola komunikasi dan interkasi yang dijalankan dalam keluarga memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan kesehatan mental anak.

Pola orang tua dalam menghadapi dan menyelesaikan persoalan diturunkan pada anak melalui modelling. "Misalnya, anak-anak yang mempunyai orang tua pencemas, memiliki kecenderungan sifat serupa dengan orang tuanya. Mereka akan cenderung mudah cemas dan tegang dalam menghadapi berbagai hal," kata Diana, Kamis (6/10).

Demikian halnya pada anak-anak yang tumbuh dengan orang tua agresif, cenderung menunjukkan sikap agresif dalam berinteraksi. Cara-cara keluarga dalam mengekspresikan dan mengomunikasikan sesuatu bisa membentuk kesehatan atau justru kesakitan mental pada anak.
Diana menyampaikan, keluarga dapat menjadi pelindung bagi kesehatan anak. Namun begitu, keluarga juga bisa menjadi pemicu munculnya gangguan kesehatan anak. Misalnya pada anak-anak diabilitas, keluarga yang tidak utuh karena perceraian, dan kehilangan figur ayah.

“Keluarga bisa menjadi faktor protektif, namun juga pemicu munculnya gangguan mental,” ujarnya. Maka itu dibutuhkan sistem pengasuhan seimbang. Pasalnya, dalam keluarga, ayah dan ibu memiliki peran penting dalam pengasuhan anak.

Keduanya akan menghasilkan efek yang sama pada perilaku anak. Ketika peran ayah dalam keluarga hilang, maka bisa mengembangkan psikopatologi. Anak-anak yang kehilangan sosok ayah sangat rentan menjadi korban maupun pelaku kekerasan seksual. “Sudah sepatutnya ayah dan ibu bekerja sama dalam pengasuhan anak karena keduanya memiliki peran yang sama dalam membesarkan anak,” papar Diana.

Menurutnya, anak-anak harus dididik dalam keseimbangan. Dari ayah, anak-anak akan belajar tentang kekuatan dan juga pengelaman yang lebih luas. Sedangkan dari ibu, anak-anak dapat belajar tentang kelembutan dan hal-hal yang detail.  “Kehadiran ayah dan ibu penting untuk perkembangan kesehatan mental anak. Selain itu juga bisa menyeimbangkan dominasi dalam pengasuhan,” papar Diana.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA