Monday, 13 Sya'ban 1441 / 06 April 2020

Monday, 13 Sya'ban 1441 / 06 April 2020

Pemerintah tak Ingin Ada Dua Kongres PSSI

Rabu 05 Oct 2016 20:12 WIB

Rep: Bambang Noroyono/ Red: Andri Saubani

  Menpora Imam Nahrawi didampingi Deputi V Bidang Harmoninasi dan Kemitraan Kemenpora Gatot S. Dewa Broto (kanan).

Menpora Imam Nahrawi didampingi Deputi V Bidang Harmoninasi dan Kemitraan Kemenpora Gatot S. Dewa Broto (kanan).

Foto: Antara

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pemerintah lewat Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) menegaskan, tak ingin dualisme Persatuan Sepak Bola Indonesia (PSSI) kembali terulang. Juru Bicara di Kemenpora, Gatot Dewa Broto mengatakan, persoalan tuan rumah Kongres Tahunan PSSI tetap harus mengacu pada rekomendasi kementeriannya.

Gatot mengatakan, Menpora Imam Nahrawi masih bertahan agar pelaksanaan Kongres Pemilihan mengambil tempat di Yogyakarta. Meski PSSI sudah memastikan kongres tersebut bakal mengambil tempat di Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), tapi kata Gatot, sikap kementeriannya tetap. "Tunggu saja nanti. Yang pasti kita nggak mau kalau terjadi lagi dualisme," ujar Gatot, saat ditemui di Kemenpora, Jakarta, Rabu (5/10).  

Kongres Pemilihan PSSI sudah ditetapkan pada 17 Oktober mendatang. Komite Eksekutif (Exco) PSSI memutuskan Kongres Pemilihan tersebut mengambil tempat di Makassar, Sulsel. Namun, Kemenpora berbeda pendapat. Lewat suratnya pada 9 September lalu, Imam meminta agar kongres tersebut dipindah ke Yogyakarta.

Perbedaan tempat pelaksanaan tersebut, berpotensi memecah kongres menjadi dua kubu. PSSI memang sudah menyiapkan segala urusan terkait pelaksanaan kongres di Tanah Bugis. Namun, Kelompok 85 (K-85), yang mengklaim menguasai mayoritas suara sah di federasi nasional, bakal tak menghadiri kongres tersebut. 

Sebetulnya, penolakan K-85 terkait penyelenggaraan Kongres Tahunan di Makassar, berawal dari kecurigaan. Kuasa hukum K-85 Gusti Randa, pernah menyampaikan, agenda terpenting dari Kongres Tahunan yaitu memilih Ketua Umum PSSI. Dalam bursa pencalonan pemimpin badan induk sepak bola tersebut, ada nama CEO Bosowa Grup, Erwin Aksa yang merupakan putra Makassar.

Adanya nama Erwin dalam bursa pencalonan, dianggap K-85 membuat Makssar sebagai lokasi kongres yang tak netral. Sementara K-85, selama ini aklamasi mendukung calon ketua umum lainnya, yaitu Pangkostrad Letnan Jenderal (Letjen) Edy Rahmayadi. Selain Erwin dan Edy tujuh nama calon ketua umum lainnya, yaitu Jenderal (Purnawirawan) Moeldoko, dan Brigadir Jenderal (Brigjen) Benhard Limbong. 

Ada juga nama lain yang bakal bertarung di bursa pencalonan, yaitu Wali Kota Batu, Eddy Rumpoko, dan mantan Ketua Umum PSSI Djohar Arifin Husin. Selain itu, ada pula Sarman El Hakim, Tonny Aprilianto, dan Kurniawan Dwi Yulianto yang ikut meraimaikan bursa PSSI-1. 

Sekertaris Jenderal (Sekjen) PSSI, Azwan Karim, Senin (3/10), pernah mengatakan, pelaksanaan Kongres Tahunan tetap di Makassar. Menurut dia, kecurigaan K-85 soal potensi kecurangan apabila kongres tetap bertempat di Makassar tak bisa dibenarkan. Sebab, kata dia, niat kecurangan, akan selalu ada di manapun kongres digelar.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA