Tuesday, 10 Syawwal 1441 / 02 June 2020

Tuesday, 10 Syawwal 1441 / 02 June 2020

Aher Minta Masyarakat di Daerah Rawan Bencana Tetap Waspada

Rabu 05 Oct 2016 15:04 WIB

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Israr Itah

PMI bangun MCK darurat untuk korban bencana banjir bandang di Garut, Jawa Barat

PMI bangun MCK darurat untuk korban bencana banjir bandang di Garut, Jawa Barat

Foto: dok: PMI

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ahmad Heryawan mengimbau masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana agar tetap waspada. Karena, kondisi cuaca masih belum stabil dengan curah hujan cukup tinggi. 

 

Aher, sapaannya, meminta masyarakat segera menyelamatkan diri kalau ada gejala bencana alam yang bisa dipicu angin, cuaca, dan hujan.

Saat ini, Pemerintah Provinsi Jabar  telah menyalurkan bantuan sebesar Rp 10 miliar untuk bencana Garut dan Sumedang. Garut mendapatkan bantuan Rp 6,5 miliar dan Sumedang Rp 3,5 miliar. 

"Untuk hal-hal yang cepat, seperti untuk membeli alat-alat kesehatan rumah sakit, supaya segera pulih pelayanan kesehatannya," katanya, Rabu (5/10). 

Selain itu, kata dia, bupati Garut pun terus melakukan inventarisasi. Nanti, hasilnya akan ditetapkan oleh bupati setempat untuk selanjutnya dilaporkan ke pemerintah pusat. Ini menjadi dasar bagi pemerintah pusat dalam menyalurkan dana ganti rugi.

Menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat Haryadi Wargadibrata, saat ini sistem peringatan dini bencana sudah dilakukan dengan baik. Berbagai pihak terkait, terus melakukan pantauan untuk memprediksi kemungkinan fenomena alam yang akan terjadi.

 

Haryadi mengatakan, pergerakan tanah pun selalu diawasi oleh tim vulkanologi dari pemerintah pusat. Selain itu, BMKG pun menganalisis hal serupa dalam setiap bulannya.

"Mitigasi bencana sudah menerbitkan per enam bulan sekali, kita bahas minimal dua kali setahun," katanya.

Bahkan, kata dia, Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air setiap hari melakukan pemantauan terhadap aliran sungai. Saat ini, yang harus menjadi perhatian adalah perbaikan di kawasan hulu sehingga daerah tangkapan air semakin banyak kembali.

"Pengelolaannya BBWS harus seperti apa, kehutanan seperti apa, lingkungan hidup. Jadi, segala sesuatu kalau menurut kami tergantung dari lingkungan hidup," katanya.

Terlebih, kata dia, Indonesia memiliki iklim tropis dengan curah hujan yang cukup tinggi sehingga memerlukan kawasan hulu sungai yang baik. Misalnya, untuk sungai bisa menyebabkan bencana karena mungkin di hulunya rusak, ada perlakukan yang kurang baik, atau budi daya kurang baik. 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA