Sunday, 5 Sya'ban 1441 / 29 March 2020

Sunday, 5 Sya'ban 1441 / 29 March 2020

Sejuta Manfaat Buah Mangrove

Senin 03 Oct 2016 08:27 WIB

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Andi Nur Aminah

Dodol mangrove yang terbuat dari buah pohon mangrove (bakau).

Dodol mangrove yang terbuat dari buah pohon mangrove (bakau).

Foto: ekuatorial.com

REPUBLIKA.CO.ID, Manfaat buah mangrove nyatanya belum banyak dikenal masayarakat umum. Alhasil banyak orang memperlakukan semena-mena pohon dan buah ini lantaran tak mengetahui kegunaannya.

Aktivitas Lingkungan Lulut Sri Yuliani saat menyaksikan pembalakan liar mangrove pada 2000-an di wilayahnya, Jawa Timur mengaku sangat kesal. Saat itu, terbesit dalam pikirannya untuk memutuskan mencari cara bagaimana bisa menghentikan fenomena menyedihkan ini.

"Pembajakan liar itu sebenarnya bisa ada karena masalah ekonomi," ujar  Lulut saat ditemui wartawan di Sampoerna Expo 2016, Pasuruan, Jawa Timur, Sabtu (2/10) lalu.

Atas dasar  itu, dia harus menemukan cara bagaimana mangrove bisa membantu ekonomi masyarakat tanpa harus ditebang. Dia tetap menekankan agar masyarakat bisa peduli akan mangrove. Salah satunya, yakni dengan memanfaatkan buang mangrove yang sudah jatuh.

Menurut Lulut, mangrove bisa dijadikan alternatif olahan pangan yang bermanfaat bagi masyarakat. Dari buah mangrove, dia bisa mengolahnya menjadi sirup, yang ternyata mampu mengempiskan tumor dalam tubuh. Kemudian sisa olahan sirup dapat dijadikan permen lalu cincau juga dodol Selanjutnya, mengolahnya menjadi kecap, sabun, lulur bahkan pewarna batik.

Pemilihan buahnya sendiri, dia melanjutkan, tidak boleh sembarangan. Dari 63 spesies mangrove, hanya beberapa yang bisa diolah menjadi makanan. Sebelum diolah, dia memang harus mengukur kadar logam yang sesuai dengan standar kosmetika dan makanan terlebih dahulu. Dengan demikian, barulah olahan dari buah ini bisa dikonsumsi umum.

Sejauh ini, Lulut mengungkapkan, sudah 150 produk berbahan mangrove yang telah disebar ke masyarakat. Tidak hanya di Jawa Timur, tapi hampir seluruh Indonesia. Bahkan, beberapa produk seperti teh dan kerupuk berbahan mangrove telah diekspor hingga ke Malaysia. Selain produk olahan, dia juga telah sukses menghasilkan 10 mesin olahan mangrove.

Kisaran harga produknya sendiri disesuaikan dengan kelas pembelinya. Untuk pembeli kelas menengah ke bawah, harga produknya dimurahkan, yakni dimulai dari Rp 1.500 saja.

Segala yang dicapai Lulut tentu tidak mudah. Apalagi dia selalu berhasil mendapatkan omzet hingga Rp 1 Miliar per tahun. Untuk mencapainya, berbagai upaya keras telah dilakukan termasuk bersinergi dengan pihak swasta maupun pemerintah.

"Dan semua yang saya lakukan ini bukan bisnis semata, tapi ingin menciptakan kemandirian ekonomi dengan memanfaatkan buah mangrove tanpa merusaknya," tambah dia. Hal ini terbukti dengan mengajak masyarakat sekitar untuk terlibat dalam olahan ini. Dengan demikian, mereka juga bisa terbantu dari segi ekonominya.



BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA