Kamis, 3 Rajab 1441 / 27 Februari 2020

Kamis, 3 Rajab 1441 / 27 Februari 2020

Obesitas Berisiko Sebabkan Pembengkakan dan Pelebaran Jantung

Jumat 30 Sep 2016 11:50 WIB

Rep: Adysha Citra R/ Red: Andi Nur Aminah

Pria obesitas

Pria obesitas

Foto: Telegraph

REPUBLIKA.CO.ID, Obesitas memiliki 'hubungan yang erat' dengan beberapa risiko penyakit berbahaya. Salah satu yang paling sering terjadi pada penderita obesitas ialah pelebaran atau penebalan pada jantung.

Obesitas dapat memicu pelebaran atau penebalan pada jantung karena obesitas akan menyebabkan terjadinya kenaikan volume darah dalam tubuh dan juga curah jantung atau kardiak output. Kondisi ini akan memaksa jantung untuk bekerja lebih keras karena harus memompa darah dengan lebih berat. Jika dibiarkan, kondisi ini akan menyebabkan jantung mengalami pelebaran ataupun penebalan.

Wakil Sekjen I Perhiampunan Dokter Spesialis Kardiovaskular (Perki) Ario Soeryo Kuncoro SpJP(K) FIHA mengatakan pelebaran jantung akan menyebabkan kemampuan jantung untuk memompa darah menjadi menurun. Sedangkan penebalan jantung, lanjut Ario, akan menyebabkan turunnya kemampuan jantung untuk 'menampung' darah sehingga volume darah yang bisa masuk ke dalam jantung untuk dipompa menjadi lebih sedikit.

Penebalan jantung ini dapat merusak struktur otot jantung secara seluler yang kemudian menimbulkan gangguan kelistrikan. Pada kasus ekstrim, gangguan ini dapat menyebabkan gangguan irama jantung yang mungkin dapat berujung pada kematian mendadak.

"Pasien biasanya akan mengeluh cepat capai atau sesak nafas pada kondisi yag lebih berat, dan gangguan pompa jantung pada kondisi yang lebih lanjut," jelas Ario.

Senada dengan Ario, Ketua Perki Ismoyo Sunu mengatakan obesitas patut dicegah dan diperbaiki demi menurunkan risiko penebalan atau pelebaran jantung. Karena jika dibiarkan, penebalan atau pelebaran jantung dapat berakhir menjadi gagal jantung yang dapat mengancam jiwa.

Oleh karena itu, Ismoyo menyarankan agar seluruh masyarakat menerapkan pola hidup yang sehat salah satunya dengan pola makan yang seimbang. Selain itu, Ismoyo mengatakan masyarakat juga perlu melakukan olahraga secara teratur dan terukur minimal tiga kali dalam seminggu dengan masing-masing durasi olahraga 30 menit. "Dan juga jauhi rokok," kataIsmoyo.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA