Wednesday, 19 Muharram 1444 / 17 August 2022

Siapakah Sosok Nana Asma'u?

Senin 26 Sep 2016 20:33 WIB

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: Agung Sasongko

Muslim Nigeria

Muslim Nigeria

Foto: AP

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nana Asma'u terlahir kembar bersama seorang saudara laki-lakinya, Hassan, pada 1793 di Degel, sebuah tempat di barat laut Sokoto, Nigeria. Dibandingkan memilih nama Hussaina untuk saudara kembar Hassan, orang tua mereka memilih Asma'u untuk nama anak perempuan mereka itu.

Nama itu diambil dari nama Asma binti Abu Bakar, putri khalifah pertama sekaligus  sahabat Rasulullah SAW. Asma binti Abu Bakar sendiri dikenal sebagai perempuan yang berani karena ia membantu Rasulullah dan ayahnya di persembunyian ketika dikejar kafir Quraisy.

(Baca: Peran Nana Asma'u Perkuat Pendidikan Muslimah Nigeria)

Aisha dan Hauwa, dua istri lain Shehu Usman dan Fodio, merawat Nana Asma'u setelah ibu kandungnya wafat pada 1795. Edukasi Islam klasik mengenalkan Nana Asma'u melihat dunia.  Hal yang diajarkan padanya tak hanya menghafal ayat Tuhan, tapi juga menggali makna di baliknya yang diajari langsung oleh ayah dan anggota keluarganya.

Pada 1807, Nana Asma'u menikah dengan Usman Gidado, lalu pindah ke Sokoto dan melahirkan anak pertama mereka, Abdulqadir, pada 1810. Pada 1811, ia mulai menerjemahkan puisi karya Shehu yang berisi panduan hak dan kewajiban dalam syariat Islam.

(Baca Juga: Nana Asma'u Prioritaskan Pendidikan Keluarga)

Sembilan tahun kemudian, pada 1820, Nana Asma'u melahirkan putra keduanya dan menulis buku Jalan Keimanan, buku tentang moralitas dan pengabdian. Antara 1824 hingga 1829, Nana Asma'u menghasilkan dua karya, Beri Kami Kemenangan dan Elegi Abdullah. Para rentang waktu itu pula, Nana Asma'u melahirkan putra ketiga dan mendapatkan cucu dari putra pertamanya.

Tiga tahun berselang, Nana Asma'u melahirkan putra keempatnya, Abdullahi Bayero. Setelah melahirkan putra kelima, Muhammad Laima, Nana Asma'u makin produktif berkarya antara 1840-1854. Setelah menulis Alasan Mencari Tuhan, Elegi untuk Fadima, dan Dan Yalli/, Nana Asma'u tutup usia pada 1863.

Dalam tulisannya, Ode to Nana Asma'u: Voice and Spirit dalam laman Muslim Heritage, Natty Mark Samuels menuturkan, Nana Asma'u duduk di lingkaran para guru di Afrika. Dari para  ahli ilmu di keluarganya, mulai dari Aisha, ayahnya Shehu Usman dan Fodio (Syekh Usman bin Fodio), pamannya Abdullahi dan Fodio, dan kakaknya Muhammed Bello, Nana Asma'u belajar Alquran serta empat bahasa lain: Arab, Fulfude, Hausa, dan Tamachek.

Tahun pertama Nana Asma'u dihabiskan di kelompok religi Degel di utara Nigeria. Dari kelompok yang dibentuk ayahnya  itu, Nana Asma'u mendapat pendidikan keimanan dan  pendidikan masa kanak-kanak paling mumpuni. Dari komunitas itu pula, Nana Asma'u menyelami permasalahan pendidikan perempuan.

Kebanyakan perempuan di utara Nigeria menikah di usia muda, pada 11 hingga 14 tahun. Karena para suami, ayah, dan saudara lelaki di sana kurang menunjukkan dukungan mereka pada pendidikan kaum perempuan, banyak perempuan putus dalam pendidikannya.

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA