Thursday, 12 Syawwal 1441 / 04 June 2020

Thursday, 12 Syawwal 1441 / 04 June 2020

Isu SARA Sudah tak Relevan

Selasa 13 Sep 2016 23:17 WIB

Red: Esthi Maharani

Pilkada (ilustrasi)

Pilkada (ilustrasi)

Foto: berita8.com

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tokoh Muda Nahdlatul Ulama DKI Jakarta Taufik Damas berpendapat, isu SARA dalam setiap ajang pemilihan pemimpin di negeri ini sudah sangat tidak relevan, bahkan ketinggalan zaman.

"Kita ini hidup di abad yang sangat modern. Ini abad 21. Isu SARA itu produk masyarakat abad lampau. Kini saatnya kita berpikir untuk memperkuat kehidupan yang beradab dan berbudaya. Kita harus mampu berpikir objektif dalam segala hal," kata Taufik yang juga Wakil Katib Syuriah PWNU DKI Jakarta, di Jakarta, Selasa (13/8).

Maraknya isu SARA, khususnya menjelang pilkada Jakarta cukup membuat risau sebagian kalangan karena secara faktual sudah sangat jelas bahwa penduduk Indonesia terdiri dari berbagai suku dan agama. Setiap warga Negara Indonesia (WNI) memliki hak dan kewajiban yang sama, termasuk dalam politik.

Menurut alumnus Universitas Al Azhar Cairo Mesir ini, momen pemilihan pemimpin seharusnya dilihat sebagai kesempatan bagi masyarakat untuk ikut memperjuangkan kehidupan yang lebih baik. Maka, masyarakat harus mampu memilih pemimpin yang benar-benar akan memperjuangkan hidup yang lebih beradab dan berbudaya.

"Ya, masyarakat harus diajak untuk berpikir objektif dan kritis. Dengan demikian, akan lahir pemimpin yang benar-benar memperjuangkan kesejahteraan hidup orang banyak. Pemimpin yang bertanggung jawab pada masyarakat, bukan pemimpin yang culas dan penuh kebohongan," tegas Taufik.

Dalam kaidah fiqih, keabsahan seorang pemimpin itu tergantung kemampuan untuk memberikan dan menjamin kemashlahatan atau kesejahteraan warga. Bukan dari agamanya karena ini pemimpin pemerintahan, bukan pemimpin keagamaan.

"Gubernur di negara Indonesia beda tanggung jawabnya seperti auliya atau wali yang dimaksud dalam negara-negara Islam. Ini negara Pancasila. Ada kesetaraan dalam hukum publik," ujar ulama muda Betawi ini.

Pemilu atau pilkada jangan sekadar dijadikan ajang untuk menang-kalah, tapi harus dijadikan kesempatan untuk menegakkan pola hidup yang sesuai dengan akal sehat.

"Karena kehidupan yang sesuai dengan prinsip-prinsip akal sehat akan bermuara pada kesejahteraan jiwa dan raga kita semua. Dan itu cita-cita para pendiri negeri ini," katanya.

sumber : antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA