Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Ali Akbar, Pendiri Bisma Center: Berlimpah Rezeki Ketika Menjadi Penguasa Komunikasi

Sabtu 03 Sep 2016 11:00 WIB

Red:

Sekadar menjual saja tidak cukup mem berikan keuntungan kepada pengusaha. Cara memasarkan produk menjadi kunci utama dalam mendatangkan pembeli. Ali Akbar memanfaatkan dengan jeli per kem bangan informasi digital yang mulai dirasa kan sejak era 2000-an. Dia yakin sebuah produk bisa banyak dikenal orang dengan memanfaatkan kecanggihan informasi digital. Ia pun menceritakan kisah suksesnya kepada wartawan Republika, Debbie Sutrisno, untuk meyakinkan para pengusaha bahwa ilmu yang dia miliki mampu meningkatkan omzet penjualan.

***

Ali awalnya aktif bermain di dunia digital dengan memanfaatkan jejaring sosial Kaskus. Melalui laman komunitas ini, Ali mulai mengetahui manfaat perkem bang an informasi digital yang belum dikenal banyak kalangan masyarakat.

Semua bermula ketika seorang pengguna Kaskus berniat menjual Nokia Communicator dengan harga murah. "Ada sekretaris perusahaan mau jual Nokia Com municator harganya 5 juta, pas harganya 7 juta. Di situ saya langsung 'teriak' ke teman dosen saya yang lagi cari handphone," kata Ali kepada Republika, Rabu (24/8).

Hanya dengan menjadi makelar, Ali kemudian me nawarkan handphone ini agar cepat-cepat dibeli ke pada temannya. Handphone ini pun akhirnya terjual dengan harga Rp 4,8 juta dari sang penjual dan terbeli dengan harga Rp 6 juta. "Saya cuma mindahin uang saja dapat untung. Dari situ saya sadar bahwa siapa yang menjadi penguasa informasi maka akan berlimpah rezeki," ujarnya.

Kegiatan jual beli dengan memanfaatkan informasi digital pun kemudian ditekuni oleh Ali. Bertempat ting gal di kawasan Priok, Jakarta Utara, dia memanfaatkan keberadaan Pasar Ular yang terkenal dengan berbagai macam barang jualan. Ali menggunakan laman komunitas multiply untuk menjual barang dagangannya. Melalui laman ini Ali men coba menjual barang sebanyak mungkin dan mencari barang apa yang sedang dicari pembeli. Pada 2006, Ali diminta untuk masuk ke salah satu perusahaan batu bara di Indonesia. Kala itu, peng hasilan Ali bisa mencapai Rp 20 juta. Namun, nominal ini tidak menghentikan Ali untuk berhenti berjualan secara online.

Reformasi pemikiran Ali kembali terjadi saat bosnya meminta dia untuk mencari penyewaan alat berat untuk pengerjaan penggalian batu bara di Kalimantan. Mencari penyewaan di laman Google, Ali merasa kesulitan karena pada saat menulis "Penyewaan Alat Berat di Kalimantan" setiap laman tidak menampilkan secara langsung nomor telepon tempat penyewaan tersebut. Hingga akhirnya barulah pada laman keempat ditemukan tulisan yang tertera nomor teleponnya. Penasaran, Ali kemudian mencari tahu bagaimana cara mesin pencari Google bisa menemukan sebuah laman ketika seseorang mengetik sejumlah kata dalam pencariannya. Ternyata untuk membuat hal tersebut ada ilmunya, yakni Search Engine Optimization (SEO) atau Optimalisasi Mesin Pencari (OPM).

Ali yang memang sudah tertarik dengan dunia marketing dan digital akhirnya memutuskan melepas pekerjaanya di perusahaan batu bara. Pada 2008 Ali kemudian belajar untuk mendapatkan serifikat sebagai ahli SEO dari Search Engine Academy. Saat akademi ini membuka sertifikasi di Singapura untuk beberapa negara termasuk Indonesia, Ali pun langsung mendaftarkan diri. Hasilnya, sepulang dari sertifikasi ini Ali melihat bahwa Indonesia adalah lahan hijau dalam digital marketing.

Ilmu barunya ini pertama kali diterapkan kepada penjual kambing akikah di Priok. Dia melihat, penjual ini kerap memberikan selebaran dan menempel pamflet di pohon maupun tembok.

Ali kemudian menawarkan bantuan kepada bapak tersebut untuk memasarkan kambing akikah secara digital. Meski sang pemilik kebingungan, Ali mencoba meyakinkan bahwa cara ini akan lebih bermanfaat ketimbang melakukan promosi melalui selebaran. "Jadi saya buat marketing digital, ketika orang mengetik di Google dan mencari kambing akikah, yang pertama muncul adalah nomor saya. Saat ada order me la lui nomor saya, saya berikan order itu kepada pen jual kambing untuk segera diproses. Setelah jual beli selesai, saya mendapatkan komisi," kata Ali.

Ali kemudian mengembangkan pola pikir SEO kepada banyak orang khususnya para pelaku usaha yang memang membutuhkan pemasaran yang baik agar omzet mereka meningkat. Laman komunitas bernama Tedi (terlihat dan ditemukan) dibentuk untuk meng optimalkan mesin pencari. Digarap mulai tahun 2009 hingga 2012 lama ini memiliki lebih dari 18 ribu anggota.

Selain mengembangkan Komunitas Tedi, Ali yang saat ini dikenal dengan Pakar SEO juga melakukan kun jungan dan pelatihan di lebih dari 43 kota se-Indonesia. Pelatihan ini dilakukan karena Ali ingin mengajak pelaku usaha di Indonesia untuk melek bahwa dunia pemasaran digital ini mempunyai banyak manfaatnya, dan sistem ini bisa dipelajari dengan mudah.

Ali menjelaskan, selama menjadi seorang pakar SEO, penghasilan yang didapatkan cukup melimpah. Meski enggan menyebutkan nominal pastinya, tapi sempat dalam satu tahun dia bekerja sama dengan satu pengusaha, komisi yang dia dapatkan bisa seharga membeli mobil. Hingga 2012, dirinya telah membantu 182 pengusaha yang tersebar di seluruh Indonesia terkait pemasaran digital.

Mengembangkan Digital Ekosistem

Ilmu mengenai digital marketing (Dima), ungkap Ali, belum menjadi ilmu tertinggi dalam dunia industri digital, satu tahap setelah Dima adalah membuat Digital Ekosistem (Deko). sistem inilah yang mulai dikem bangkan Ali sejak 2012.

Ali menuturkan, dirinya sudah mengetahui ilmu tersebut sejak 2009, tapi karena kebutuhan akan Dima masih tinggi maka Ali masih memfokuskan diri dalam dunia Dima hingga dirinya merasa bahwa waktu yang tepat untuk mengembangkan Deko, yakni pada 2012. Deko adalah wadah yang nantinya menjadi inku bator bagi para Dima. Artinya, Deko ini bisa disebut sebagai induk dari beberapa perusahaan. Deko yang dibangun oleh Ali kemudian diberi nama BISMA. BISMA dalam Dima adalah bisnis, internet, sharing, marketing, dan afiliasi. Sedangkan BISMA untuk Deko yaitu bisnis, inkubator, start up, makkers, dan akse lerator.

Saat ini, inkubator Deko yang dibangun Ali ini telah memiliki sembilan usaha yang sudah bisa dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Contohnya adalah Pelajar Digital. BISMA juga saat ini memiliki 12 unit bisnis yaitu di bidang afiliasi, bisnis, filantropi, pengembangan, pen didikan, keuangan, pemerintahan, kesehatan, investasi, media, profit, dan spiritual. Satu unit bisnis bisa menjadi satu perusahaan, tapi satu perusahaan bisa memiliki lebih dari satu unit bisnis. Contohnya untuk PT Optimasi Inovasi yang berada di bawah BISMA yang memiliki fokus terhadap pendidikan, bisnis, dan filantropi.

Saat ini, jumlah perusahaan yang berada di bawah BISMA telah mencapai 13 perusahaan. BISMA yang saat ini menjadi inkubator untuk banyak start up dan perusahaan dirasa belum cukup. Ali menginginkan agar BISMA bisa menggandeng banyak pihak agar BISMA ini menjadi perusahaan besar yang memang bisa ber saing dengan perusahaan besar lainnya. ¦ ed: ichsan emrald alamsyah

Nama Lengkap : Ali Akbar

TTL : Jakarta, Maret 1979.

Pendidikan : SMA 110 Jakarta,

Universitas : S1 Teknologi Komunikasi di Universitas Budi Luhur, Jakarta

S2 Master Teknologi Komunikasi di Universitas Budi Luhur, Jakarta.

CIO of BISMA Korpora Nusantara, Pendiri Komunitas Bisma, PT OPTIMASI Bisnis Indonesia, PT Optimasi Mediatama, PT Optimasi Mitratama

PT Optimasi Wanita Indonesia dan PT Usaha Kreatif Milyaran

Buku yang diterbitkan:

Playboy Marketing

Welcome to Twitterland

Hujan Rezeki Pakai Blackberry

Raup Miliaran dengan Web Komunitas

Rezeki Itu Misteri, Mati Itu Pasti (RIMMIP)

Segala Puji Bagimu Ya Rabb

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA