Friday, 29 Jumadil Awwal 1441 / 24 January 2020

Friday, 29 Jumadil Awwal 1441 / 24 January 2020

Menikmati Kopi Gayo Sambil Bercengkerama

Senin 29 Aug 2016 17:21 WIB

Red: Hiru Muhammad

Mengopi sudah menjadi pemandangan setiap hari warga di Banda Aceh

Mengopi sudah menjadi pemandangan setiap hari warga di Banda Aceh

Foto: dok republika

REPUBLIKA.CO.ID,BANDA ACEH -- Mengunjungi kota Banda Aceh rasanya belum lengkap apabila tidak menikmati kopi Gayo khas Aceh. Di kota ini rangkali ada ratusan kedai kopi yang bertebaran di sejumlah tempat. Mereka melayani para penikmat kopi sejak siang hingga larut malam. 

Ditemani hiburan ringan berupa televisi atau alunan musik serta makanan ringan, warga Aceh dapat menghabiskan waktu berjam jam untuk menikmati kopi kegemaran mereka. Salah satu kedai kopi yang menjadi favorit warga Banda Aceh dan sekitarnya adalah kedai Nacha Travel Cafe. Kedai kopi yang terletak di Jalan Panglima Nyak Makam ini menjadi lokasi tetap bagi sejumlah anggota dewan, pengusaha hingga mahasiswa untuk keperluan bisnis maupun sekedar bercengkerama. "Kita memang agak premium kopinya," kata Dedy T Zaimi, pemilik Kedai Nacha Travel Cafe.

Kedainya selama ini hanya menjual kopi asal Gayo yang diolah dengan cita rasa Espresso maupun Sanger. Untuk kopi rasa Espresso disajikan tanpa gula, sedangkan Sanger dilengkapi susu yang disukai banyak orang. Di dalam kedainya, terdapat mesin pengolah kopi serta perlengkapan pendukungnya untuk meracik kopi sesuai selera konsumen. Kedainya juga menyediakan kopi bubuk maupun bijian yang siap diolah sesuai permintaan. 

Menurutnya, para pelanggan lebih menyukai kopi jenis Arabica Gayo. Menurut pria asal Gayo ini, masyarakat setempat setiap kali menikmati kopi tanpa gula. Namun, ada pula yang menyantap gula aren yang digigit setelah menikmati kopi tersebut. Dedy menyarankan mereka yang memiliki gangguan pada maag agar menimbang kembali ukuran kopi setiap kali hendak menikmati kopi di kedai kopi. "Bilang ke barista, nanti ukuran disesuaikan kebutuhan konsumen, jangan membeli kopi sachet karena ukuranya berbeda," tuturnya. 

Bisnis kopi telah ditekuni Dedy sejak tahun 2010 setelah dirinya menemukan kebuh kopi Arabika yang cukup luas di Aceh. Dua tahun kemudian, Dedy memberanikan diri membuka kedai kopi setelah sebelumnya hanya memasok bahan kopi ke sejumlah tempat di Indonesia. "Yang keluar Aceh hanya bahan mentah saja, saya hanya mencoba bisnis hilirnya," katanya. 

Hingga kini Dedy mampu meraih omset antara 2 hingga 4 juta perbulan dari kedai kopinya. Dalam satu bulan Dedy membutuhkan 450 kilogram kopi Gayo untuk dikirim ke sejumlah daerah dan dijual di kedai kopinya. 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA