Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Pertamina: Rasio Cadangan Migas Bakal Naik 4 Kali Lipat

Kamis 18 Aug 2016 19:40 WIB

Rep: Sapto Andika Candra/ Red: Nidia Zuraya

Ladang migas, ilustrasi

Ladang migas, ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Pertamina (Persero) memproyeksikan rasio cadangan migas atau reserve replacement ratio (RRR) tumbuh 200 sampai 400 persen per tahun untuk memenuhi kebutuhan energi nasional. Meski begitu, penurunan produksi alamiah (decline) dan anjloknya harga minyak dunia menjadi tantangan terbesar Pertamina saat ini.

Bambang Manumayoso, Ketua Tim Tata Kelola (Tranformasi) Upstream Pertamina mengatakan bahwa pihaknya mengupayakan banyak langkah, tidak hanya agar bisa mempertahankan capaian saat ini, namun juga bagaimana tetap bisa tumbuh ke depannya. Hal ini dilakukan karena Pertamina merupakan kepanjangan tangan pemerintah yang harus mengamankan energi nasional.

"Pertamina adalah Indonesian Flag Carrier. Pertamina yang menurut undang-undang, satu-satunya yang harus menjaga ketahanan energi nasional, baik migas maupun geothermal,” kata Bambang di Jakarta, Kamis (18/8).

Menurut dia, upaya yang dilakukan Pertamina saat ini adalah menahan penurunan produksi dengan menggunakan teknologi tepat guna. Selain itu, Pertamina juga harus terus melakukan eksplorasi untuk menggantikan maupun menambah cadangan yang sudah diproduksikan.

“Strategi hulu Pertamina yaitu bagaimana caranya produksi dan reserve replacement ratio (RRR) migas harus bisa naik, sehingga reserves yang sudah diproduksikan dapat digantikan dengan reserves baru yang lebih tinggi,” kata Bambang yang juga Direktur Pengembangan PT Pertamina Hulu Energi.

Pertamina memproyeksikan pertumbuhan produksi migas 8 persen per tahun sepanjang 2015 sampai 2030. Pada periode 2010 sampai 2015, lanjut Bambang, performance produksi migas perseroan rata-rata tumbuh 6 persen per tahun dengan cadangan migas rata-rata meningkat 4,4 persen per tahun.

Bambang mengatakan kata kunci lain untuk bertahan terhadap dampak penurunan harga minyak adalah pada biaya produksi per barel. Jika pada Agustus 2014, harga minyak masih sekitar 70 dolar AS per barel, pada Februari 2016 harga anjlok hingga mencapai 26 hingga 27 dolar AS per barel.


BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA