Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Indonesiaku, Kemerdekaan Milik Siapa?

Rabu 17 Aug 2016 06:44 WIB

Red: M Akbar

Bendera Merah Putih raksasa berkibar di tugu Monas, Jakarta.

Masih data Susenas lainnya, merinci sejak awal periode pemerintahan SBY-Boediono tahun 2009, rasio Gini mencapai 0,37. Angka itu menembus batas psikologis rasio Gini Indonesia. Situasi tersebut jika terus berlanjut dapat memunculkan masalah ekonomi dan sosial. Memburuknya kesenjangan pendapatan menunjukan kelompok pendapatan atas tumbuh lebih tinggi dibanding kelompok pendapatan bawah.

Lalu, tahun 2013, rasio Gini Indonesia sudah tembus 0,41. Artinya, satu persen rakyat menguasai 41 persen kekayaan Indonesia. Bahkan sumber lain menyebut rasio Gini Indonesia tahun 2014, mendekati 0,50. Satu persen rakyat Indonesia menguasai 50 persen kekayaan nasional. Luar biasa. Jangan heran, sekarang ada menteri yang tidak malu dobel-dobel jabatan. Nah, dari data tersebut, hal yang kerap melenakan adalah fenomena gunung es.

Dengan kata lain, data atau angka statistik resmi cenderung lebih rendah dibanding kenyataan di lapangan. Artinya kenyataan sosial di masyarakat semakin parah dibanding data yang ada. Hal lain tak kalah mengerikannya, fakta rusaknya moral, akhlak dan pemikiran generasi. Nyaris setiap hari selalu ada berita kriminalitas yang membuat hati kita merinding. Pola dan kekejiannya semakin menyeramkan.

Dulu, era 80 an kita mengenal istilah ghazwul fikri atau perang pemikiran. Melalui siaran tv dan produk budaya asing aseng, kerusakan generasi seolah malah kita dukung. Simak: kalau di era Eyang-eyang dulu selalu melaksanakan itsar, mengutamakan orang lain. Generasi orangtua selalu melakukan nilai dan budi luhur, generasi sekarang yang penting: instan, kejar materi dan have fun.

Kita telah memasuki perang generasi keempat atau G-IV. Yakni era proxy war dengan propaganda yang dilancarkan untuk mengubah cara berpikir. Tujuannya mengubah paradigma, mengubah logika berpikir. Bila orientasi hidup dan logika berpikir kita sudah dikendalikan, selanjutnya sangat mudah dihancurkan.

Mengutip situs Muhammaddotinfo, perang G-IV perang canggih yang tak semua bisa memahaminya. Propaganda yang dilancarkan sangat halus, namun massif, terukur dan terencana. Contoh paling ampuh melancarkan propaganda itu lewat sarana: gadget, media massa, media sosial. Kalau dicermati, terjadi upaya hipnotis massal yang menyerang bangsa ini melalui informasi yang berseliweran via sarana tadi.

Contoh mudah di medsos. Akun ini mendukung idola A atau akun itu mendukung idola B, padahal tujuannya sama. Hal yang membedakan tugas masing-masing akun saja, disesuaikan target audiencenya. Bangsa ini pun akhirnya terus saja terpolarisasi. Terpecah belah. Mudah diadu domba.

Nilai-nilai moralitas dan akhlak makin tergerus. Generasi dibuai budaya instan, hedon, permisif. Kita juga diserang narkoba yang menghantam segala lini. Bahkan, bandar besar telah menyasar pangsa pasar baru: balita dan anak-anak. Kita sempat pula dihantam vaksin palsu yang mengorbankan balita.

Dengan kata lain, generasi sudah berada dalam ancaman yang sangat mengerikan. Tetapi pejabat sibuk berpolitik dan berperang antar genk, yang membuat Istana kebobolan secara ideologis dengan kasus menteri WNA. Geoekonomi, geostrategi, geososial, geopolitik, masa depan generasi makin terancam.

Kita berteriak UUD 1945, tapi praktiknya UUD amandemen. Kita teriak Pancasila, tetapi kenyataannya nilai Pancasila, kita khianati. Sedang nilai-nilai agama, kita tinggalkan. Maka kerusakan sosial dan keterpurukan bangsa, kita saksikan hari demi hari. Terngiang peringatan KH Ayyip Abdullah Abbas, Kiai Buntet Cirebon. Dalam satu diskusi ringan dengan beliau, diingatkan, ''Bangsa ini sudah sakit jiwa.''

Lalu, sebenarnya kemerdekaan yang kita peringati secara seremoni kemerdekaan siapa? Sedangkan kita seolah melupakan amaliah pejuang dan pahlawan. Alih-alih mempraktikan warisan keluhuran mereka. Bukankah agama adalah akhlak? Tetapi, makin hari akhlak kita makin jauh dari budaya ketimuran.

Ya Rabb, mohon ampunilah kami. Apa yang diperjuangkan leluhur justru kami balas kedurhakaan dan keserakahan. Kami mohon, berilah pemimpin yang menyelamatkan bangsa ini. Sampaikanlah bangsa ini pada kemerdekaan yang sesunggunya. Perbaikilah tauhid, moral dan akhlak kami serta generasi bangsa ini. Allahummashlih ummata Muhammad. Allahumma farrij 'an ummati Muhammad. Allahummarham ummata Muhammad. Allahumma shalli alaa Muhammad.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA