Monday, 6 Sya'ban 1441 / 30 March 2020

Monday, 6 Sya'ban 1441 / 30 March 2020

Menhan Harap Para Ulama Berperan dalam Pemberantasan Terorisme

Rabu 27 Jul 2016 07:33 WIB

Red: Bilal Ramadhan

Ryamizard Ryacudu. (Republika/Wihdan)

Ryamizard Ryacudu. (Republika/Wihdan)

Foto: Republika/ Wihdan

REPUBLIKA.CO.ID, PEKALONGAN -- Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengharapkan partisipasi para ulama dalam pemberantasan terorisme, salah satunya melalui Konferensi Ulama Internasional dan Ulama Thoriqoh Nasional yang diselenggarakan di Pekalongan Jawa Tengah pada 27-29 Juli 2016.

Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu dalam acara ramah tamah di kediaman salah satu pemrakarsa konferensi, Habib Muhammad Luthfi bin Yahya di Pekalongan, Selasa (26/7) malam, berharap dapat tercipta kerja sama yang baik antara ulama dan umaroh atau pemerintah untuk menyadarkan kelompok-kelompok tertentu bahwa paham radikal yang dianut pelaku terorisme tidaklah benar.

"Kita sadarkan dululah saudara-saudara kita itu, bahwa apa yang mereka lakukan itu keliru, tidak sesuai Alquran dan hadist," ujar Menhan.

Sebagai menteri pertahanan negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, Ryamizard merasa bertanggungjawab melindungi umat Islam dari pengaruh radikalisme atau stigma buruk terorisme.

Menurut dia, tindakan teror yang sebagian besar dilakukan orang-orang yang mengatasnamakan diri sebagai Muslim telah mencederai dan menyakiti umat Islam yang benar-benar menganut Islam yang rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam).

"Kita sayang bangsa ini, jangan sampai (negara) yang penduduk (Muslimnya) terbesar di dunia masa Islam terseret-seret (terorisme). Tanggung jawab saya supaya umat Islam tidak terseret," katanya.

Dalam rangka mencegah dan memberantas terorisme, ia mengaku telah menjalin dialog dengan beberapa gubernur di Sumatera dan Sulawesi untuk menyadarkan orang-orang yang teradikalisasi.

Dalam kesempatan yang sama, Habib Muhammad Luthfi bin Yahya berharap konferensi yang diikuti para ulama dari 46 negara itu akan melahirkan patriot-patriot yang dapat menjadi pembela setiap negara dan bangsanya.

Jika setiap anak bangsa memiliki rasa cinta Tanah Air, menurut dia, maka bangsa tersebut tidak mungkin terpecah belah oleh paham radikal yang dapat berkembang menjadi terorisme.

Habib Luthfi juga menegaskan bahwa nilai kebangsaan menurut hakikatnya lebih tinggi daripada nilai kepentingan, salah satunya kepentingan politik.

"Kita di sini berkumpul untuk melepaskan diri dari kepentingan politik dan ingin menegaskan bahwa bela negara adalah kewajiban terutama bagi negara-negara Islam," tuturnya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA