Sunday, 4 Syawwal 1442 / 16 May 2021

Sunday, 4 Syawwal 1442 / 16 May 2021

Kunjungi Masjid, Xi Jinping Ajak Muslim Tolak Penyusup Agama

Kamis 21 Jul 2016 12:35 WIB

Rep: Gita Amanda/ Red: Ani Nursalikah

Presiden Cina Xi Jinping berbicara dengan Muslim setempat di Masjid Xincheng di Yinchuan, ibu kota Wilayah Otonomi Ningxia Hui, 19 Juli 2016. Xi melakukan kunjungan tiga hari di Ningxia.

Presiden Cina Xi Jinping berbicara dengan Muslim setempat di Masjid Xincheng di Yinchuan, ibu kota Wilayah Otonomi Ningxia Hui, 19 Juli 2016. Xi melakukan kunjungan tiga hari di Ningxia.

Foto: Xinhua/Ju Peng

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Presiden Cina Xi Jinping melakukan kunjungan ke masjid di wilayah Muslim di barat Cina. Dalam kunjungannya, ia mengatakan Muslim Cina harus mempromosikan harmoni sosial dan menolak penyusup di agama mereka.

Ada sekitar 21 juta Muslim di Cina. Selama ini konstitusi Cina menjamin kebebasan beragama, tapi kelompok-kelompok hak asasi mengatakan Partai Komunis Cina membatasi praktik keagamaan, khususnya Muslim. Cina membantah tegas tuduhan tersebut.

Mengunjungi Nixia, rumah bagi sekitar 2,4 juta Muslim, Xi mengatakan Muslim Cina harus mempraktikkan agama mereka sebagai bagian dari masyarakat Cina. China Daily melaporkan pada Kamis (21/7), Xi juga meminta Muslim Cina meneruskan tradisi patriotik.

"Agama di negara kita, yang endemik maupun orang-orang dari luar negeri, telah sangat tertanam dalam peradaban Cina, yang sejarahnya mencakup lebih dari 5.000 tahun," kata Xi saat mengunjungi masjid di Yinchuan.

Xi mengatakan Muslim harus tegas menentang kegiatan penyusup ilegal ke agama mereka. Xinhua melaporkan, Xi juga meminta Muslim mempromosikan kerukunan beragama dan sosial.

Pemerintah Cina mengatakan telah menghadapi kenaikan jumlah ekstremis, terutama di Xinjiang. Beijing selama ini menyalahkan ekstremis asing untuk memanaskan ketegangan terutama di Xinjiang.

Banyak kelompok hak dan buangan meragukan keberadaan ekstremis di Xinjiang. Mereka mengatakan Uighur di Xinjiang marah karena kebijakan represif Cina.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA