Monday, 7 Rabiul Awwal 1444 / 03 October 2022

Legenda Si Manis Jembatan Ancol

Kamis 07 Jul 2016 19:19 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Warga menikmati pemandangan matahari tenggelam saat menunggu berbuka puasa (ngabuburit) di Pantai Festival, Ancol, Jakarta, Kamis (30/6).  (Republika/Agung Supriyanto)

Foto:

Ulama Kondang almarhum KH Abdullah Syafe’ie, melalui radio Asyafi’iyah pada 1970-an dan 80-an, sering menyindir monyet-monyet di Ancol sekarang bukan lagi berupa binatang tapi manusia yang tingkah lakunya lebih jelek dari binatang.

Maksud sindiran ulama Betawi itu, karena di malam hari para hidung belang dan WTS menjadikan kawasan Ancol sebagai tempat indehoy. Tanpa mengenal malu dan takut akan dosa, mereka melakukan maksiat di pasir tepi pantai, hanya dialingin sebuah pantai. Konon, sekarang ini lebih berani lagi.

Ancol sebagai tempat maksiat dikenal jauh sebelumnya. Dikisahkan, playboy kaya raya Oey Tambahsia dan sejumlah warga tajir lainnya sering bersenang-senang di Ancol.

Mereka memiliki soehian (semacam rumah pelacuran) tempat berpesiar dengan para harem. Bahkan, di salah satu vilanya itu, konon si mata keranjang Oey Tambahsia membunuh seorang gadis yang jadi korbannya.

Kemudian, gadis itu diidentikan sebagai Ariah yang hilang sekitar tahun 1870/1871. Ia meninggal dan jasadnya hilang, setelah menolak hendak diperkosa di sebuah vila di Ancol. Ia kemudian dikenal sebagai ‘Si Manis dari Jembatan Ancol’, yang pada malam hari sering keluar dan menggoda laki-laki, khususnya para sopir yang lewat jembatan.

Kisah itu telah berkali-kali disinetronkan, bahkan pernah difilmkan. Oleh perusahaan film Sarinande dengan produsen dan sutradara Turino Djunaedi dan pemeran utama Lenny Marlina, Farouk Afero dan Kris Biantoro.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA