Mengintip Tradisi Ziarah Antarpulau Masyarakat Pulau Seribu

Red: Hazliansyah

 Rabu 06 Jul 2016 22:38 WIB

 Peziarah mendoakan anggota keluarga mereka yang telah meninggal dunia di TPU Karet Bivak, Jakarta, Ahad (5/6). (Republika/ Wihdan) Peziarah mendoakan anggota keluarga mereka yang telah meninggal dunia di TPU Karet Bivak, Jakarta, Ahad (5/6). (Republika/ Wihdan)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Masyarakat Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Jakarta, melaksanakan tradisi ziarah antarpulau saat Hari Lebaran, Rabu.

Menurut salah seorang warga yang tinggal di Pulau Payung Besar, Sapri, ziarah itu hanya dilakukan sekali dalam setahun untuk menghormati sanak keluarga yang telah tiada.

"Saya pribadi bersama keluarga ziarah ke Pulau Tidung ke makam kedua orang tua saya," ujar Sapri di Pulau Payung Besar, Kepulauan Seribu, Jakarta, Rabu.

Dia mengatakan, dirinya pergi ziarah dengan kapal pribadi ke Pulau Tidung, pulau yang berwaktu tempuh setengah jam dari Payung Besar. Adapun di kawasan Kepulauan Seribu, hanya ada dua pulau yang dijadikan lokasi pemakaman yaitu Pulau Tidung dan Pulau Karya.

Pulau Karya sendiri berada dekat dengan Pulau Pramuka, waktu tempuh 20 menit, dan bersebelahan dengan Pulau Panggang.

Berdasarkan pantauan Antara di Pulau Pramuka, penduduk berbondong-bondong kunjungi Pulau Karya dengan menaiki kapal kayu kecil bermesin. Setiap penumpang dikenakan ongkos Rp 3.000 untuk sekali perjalanan.

Setelah ziarah, warga Kepulauan Seribu berpencar lagi untuk bersilaturahmi ke rumah sanak keluarga yang tidak jarang berada di pulau-pulau lainnya.

Pengamatan Antara di dua pulau, Pulau Payung Besar dan Pramuka, tidak terlihat keramaian wisatawan di Hari Lebaran. Diperkirakan puncak keramaian terjadi pada H+1 sampai H+3 Idul Fitri.

Play Podcast X